PARAPUANG.com – Fenomena pemimpin perempuan dunia yang mundur dari jabatannya kembali mencuri perhatian publik internasional.

Sepanjang Februari 2024 hingga Agustus 2025, tercatat tiga sosok pemimpin perempuan dari tiga negara berbeda terpaksa melepas jabatan mereka di tengah badai politik, protes rakyat dan kontroversi etika.

1. Katalin Novak, Presiden Hungaria

    Katalin Novak resmi menyatakan mundur pada 10 Februari 2024 usai terseret dalam kasus kontroversial pengampunan pelaku pelecehan seksual.

    Keputusannya memicu protes besar di Budapest dengan ribuan warga menuntut pertanggungjawaban.

    Novak diketahui pernah memberikan amnesti kepada puluhan orang, termasuk seorang pejabat panti asuhan yang membantu menutupi kasus pelecehan.
    Keputusan itu menjadi titik balik yang melemahkan legitimasinya hingga akhirnya ia lengser.

    Baca Juga :  Sitti Husniah Talenrang Buka Turnamen U-20 Gowa, Ajang Cari Bibit Atlet Sepak Bola

    2. Sheikh Hasina, Perdana Menteri Bangladesh

      Setelah 15 tahun berkuasa, Sheikh Hasina mengundurkan diri pada 5 Agustus 2024.

      Ia meninggalkan Bangladesh menggunakan helikopter militer menuju India di tengah gelombang protes berdarah yang dipimpin mahasiswa.

      Demonstrasi dipicu kebijakan kuota pekerjaan pemerintah sebesar 30% untuk keluarga veteran perang kemerdekaan 1971.

      Dalam rentang sebulan, lebih dari 300 orang tewas akibat bentrokan dengan aparat.

      Tekanan publik yang tak terbendung membuat Hasina akhirnya menyerah.

      3. Paetongtarn Shinawatra, Perdana Menteri Thailand

        Nama Paetongtarn Shinawatra, perdana menteri termuda dalam sejarah Thailand, juga masuk dalam daftar pemimpin perempuan yang jatuh.

        Pada 29 Agustus 2025, Mahkamah Konstitusi memberhentikannya karena pelanggaran etika usai rekaman percakapan bocor dengan mantan pemimpin Kamboja, Hun Sen.

        Baca Juga :  HIPMI Sulsel Gelar Sport Cup 2025, Ajang Silaturahmi dan Kolaborasi Pengusaha Muda

        Insiden itu memperburuk ketegangan perbatasan hingga berujung pertempuran lima hari.

        Keputusan pengadilan sekaligus memperpanjang sejarah pahit keluarga Shinawatra yang berulang kali disingkirkan lewat kudeta maupun intervensi hukum.

        Tiga kasus ini menjadi bukti bahwa kepemimpinan perempuan, meski membawa harapan perubahan, tetap menghadapi ujian berat di panggung global.

        Dari skandal moral, krisis sosial, hingga intrik politik, semuanya menunjukkan bahwa dinamika demokrasi modern masih sarat tantangan, bahkan bagi pemimpin perempuan yang sebelumnya dipandang progresif. (*)

        Penulis : Alin Imani