PARAPUANG.com – Ada momen ketika perempuan ingin menghadiahi diri sendiri, entah setelah melewati deadline melelahkan, berhasil naik jabatan, atau sekadar bangga mampu bertahan di tengah tekanan hidup.
Self-reward memang memberi efek psikologis positif, namun urusan keuangan sering membuat dilema: bagaimana merayakan pencapaian tanpa membuat dompet menjerit?
Di tengah inflasi yang masih bergerak naik secara berkala, seperti laporan BPS yang mencatat inflasi pada November 2025 berada di kisaran 2,72%, perempuan perlu strategi agar self-reward tetap aman dan bebas rasa bersalah.
Menurut finansial planner Dr. (Cand) Ria Andriany R.A., S.H., M.M., RIFA®, CIWP, CPS, self-reward bukan musuh keuangan, justru, self-reward yang direncanakan dengan baik bisa menjaga motivasi dan meningkatkan kesehatan emosional.
“Yang berbahaya adalah self-reward impulsif tanpa batas,” ujarnya.
Menurut Departemen Head Corporate Banking and E-Business Bank Sulselbar itu, self-reward yang sehat bekerja seperti vitamin, memberi energi, bukan menguras tubuh.
“Begitu pula dalam keuangan, kuncinya adalah mengatur porsinya,” sebutnya.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa perempuan merupakan pengambil keputusan finansial terbesar dalam rumah tangga Indonesia.
Ini berarti, perilaku belanja yang impulsif bukan hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga pada stabilitas keuangan keluarga.
Oleh karena itu, pendekatan yang lebih sadar dan terukur menjadi fondasi penting.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.