PARAPUANG.com – Ramadhan sering terasa seperti “bulan bocor” bagi dompet banyak perempuan.

Pengeluaran meningkat untuk belanja bahan makanan, takjil, hampers, hingga kebutuhan Lebaran, sementara pemasukan tetap sama.

Tanpa perencanaan keuangan yang tepat, niat ibadah justru dibayangi stres finansial setelah Idulfitri.

Kabar baiknya, Ramadhan juga momentum terbaik untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat, hemat, sekaligus penuh berkah.

Menurut financial planner Dr. (Cand) Ria Andriany R.A, S.H., M.M, RIFA®, CIWP, CPS, perempuan kerap memegang peran sebagai “menteri keuangan” keluarga.

“Keputusan kecil, memilih masak di rumah atau membeli takjil, menentukan anggaran baju Lebaran anak, hingga mengatur THR akan berdampak besar pada stabilitas keuangan rumah tangga,” bebernya.

Perempuan yang menjabat sebagai Departemen Head Corporate Banking and E-Business Bank Sulselbar itu menyebutkan bahwa Ramadhan seharusnya menjadi bulan penguatan disiplin finansial, pengelolaan yang bijak bukan berarti pelit, melainkan cerdas memprioritaskan.

Baca Juga :  5 Strategi Investasi Emas yang Aman di Era Volatilitas Ala Ria Andriany RA

“Puasa melatih pengendalian diri, prinsip yang sama bisa diterapkan pada pengeluaran dengan membedakan kebutuhan ibadah dan konsumsi emosional,” ujarnya.

Berikut ini 5 (lima) strategi praktis agar keuangan tetap stabil selama Ramadhan versi Ria Andriany R.A:

1. Buat Anggaran Khusus Ramadhan

    Pisahkan anggaran Ramadhan dari pengeluaran bulanan biasa agar pos belanja lebih terkontrol.

    Cara ini membantu melihat dengan jelas berapa dana untuk makanan, sedekah, mudik, hingga persiapan Lebaran.

    2. Prioritaskan Masak di Rumah

      Harga makanan siap saji cenderung naik selama Ramadhan, sementara godaan membeli takjil sangat besar.

      Memasak sendiri bukan hanya lebih hemat, tetapi juga lebih sehat serta mempererat kebersamaan keluarga.

      3. Tetapkan Batas Belanja Online

        Flash sale bertema Ramadhan dan Lebaran sering memicu pembelian impulsif, terutama pakaian atau dekorasi rumah.

        Baca Juga :  7 Manfaat Kombucha untuk Kesehatan Perempuan, Dari Usus hingga Gula Darah

        Tentukan daftar kebutuhan sebelum membuka aplikasi belanja agar tidak tergoda diskon semu.

        4. Sisihkan Dana Sedekah Sejak Awal

          Sedekah adalah prioritas spiritual sekaligus finansial karena membantu mengatur arus kas dengan sadar.

          Menentukan nominal di awal mencegah pengeluaran amal dilakukan secara spontan tanpa perencanaan.

          “Namun, perlu diingat bahwa sedekah di Bulan Ramadhan itu pahalanya berlipat ganda dan tidak akan mengurangi hartamu, itu janji Allah SWT,” pesan Ria Andriany R.A.

          5. Kelola THR dengan Strategi 40-30-20-10

            Gunakan 40% untuk kebutuhan lebaran, 30% untuk tabungan atau investasi, 20% untuk membayar kewajiban, dan 10% untuk berbagi.

            Pola ini menjaga keseimbangan antara kebahagiaan hari raya dan keamanan finansial setelahnya.

            Ramadhan sejatinya bukan tentang konsumsi berlebih, melainkan penyederhanaan hidup.

            Baca Juga :  Makanan yang Sebaiknya Dihindari Saat Berjerawat menurut dr Tronny

            Banyak perempuan merasa perlu “tampil maksimal” saat Lebaran, padahal kebahagiaan keluarga tidak diukur dari jumlah baju baru atau kemewahan hidangan.

            Kehangatan hubungan, kesehatan mental, serta ketenangan finansial justru menjadi hadiah terbesar.

            Ria Andriany R.A. menambahkan bahwa mengatur keuangan selama Ramadhan adalah bentuk self-care yang sering terabaikan.

            “Ketika kondisi finansial aman, ibadah pun terasa lebih khusyuk tanpa dihantui kecemasan tagihan setelah hari raya. Disiplin kecil selama satu bulan dapat membentuk kebiasaan finansial positif sepanjang tahun,” tekannya.

            Ramadhan datang setiap tahun, tetapi kesempatan memperbaiki literasi finansial tidak selalu disadari.

            Perempuan yang mampu mengelola uang dengan bijak bukan hanya melindungi dirinya, tetapi juga masa depan keluarga.

            Hemat bukan berarti kekurangan, tetapi justru tanda kecerdasan dan kemandirian finansial. (*)

            Penulis : Nurwahida