PARAPUANG.com – Paylater sering terasa seperti penyelamat di saat dompet menipis, terutama bagi perempuan.

Namun tanpa disadari, kemudahan “beli sekarang, bayar nanti” justru bisa berubah menjadi jerat utang yang menggerus ketenangan hidup perempuan secara perlahan.

Paylater terlihat seperti penyelamat, terutama jika harus menyeimbangkan kebutuhan rumah tangga, gaya hidup, hingga tuntutan sosial.

Banyak perempuan baru menyadari jebakan ini saat tagihan menumpuk, tabungan menipis, dan rasa cemas mulai mengganggu kualitas hidup.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan disiplin finansial, tetapi juga soal literasi dan kontrol diri.

Menurut pandangan seorang financial planner, Dr. (Cand) Ria Andriany R.A, S.H., M.M, RIFA®, CIWP, CPS akar masalah paylater sering kali bukan pendapatan kecil, melainkan kebiasaan konsumtif.

“Utang konsumtif membuat seseorang bekerja untuk masa lalu, bukan masa depan. Islam mengajarkan agar pengeluaran mengikuti kemampuan riil, bukan keinginan sesaat,” ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa keluar dari utang konsumtif bukan sekadar memperbaiki angka di rekening, tetapi juga memulihkan ketenangan hidup.

Baca Juga :  5 Strategi Investasi Emas yang Aman di Era Volatilitas Ala Ria Andriany RA

“Perempuan sering menjadi pengatur keuangan keluarga sekaligus penjaga stabilitas emosional rumah tangga, sehingga kesehatan finansial sangat menentukan kualitas hidup secara keseluruhan,” tuturnya.

Dilansir dari bisnis.com penggunaan layanan paylater (BNPL) di Indonesia melonjak drastis sepanjang 2025, didominasi oleh milenial dan Gen Z.

Data OJK per Desember 2025 menunjukkan debitur paylater meningkat 49,23% YoY mencapai 24,52 juta, dengan total portofolio kredit menembus Rp53,75 triliun.

Tren ini didorong tingginya transaksi digital meski risiko kredit macet juga meningkat

Dalam konteks inilah, perspektif Islam memandang utang sebagai hal yang boleh, tetapi tidak dianjurkan tanpa kebutuhan mendesak.

Rasulullah SAW bahkan berdoa agar dijauhkan dari lilitan utang karena berpotensi menimbulkan kecemasan, konflik, hingga hilangnya keberkahan.

Paylater dan cicilan konsumtif berisiko mengandung riba apabila terdapat bunga, denda, atau biaya tambahan yang tidak adil, sehingga perlu disikapi dengan sangat hati-hati.

Baca Juga :  Diskon Ramadhan Menggoda? Begini Cara Belanja Anti Impulsif Menurut Dr (Cand) Ria Andriany R.A ,S.H.,M.M

Berikut ini 7 langkah strategis dan realistis yang bisa membantu perempuan keluar dari jerat paylater secara bertahap menurut Ria Andriany RA, yakni;

1. Hitung Total Utang Secara Transparan

    Banyak orang hanya melihat cicilan bulanan tanpa menyadari total kewajiban sebenarnya.

    Mengetahui angka utuh membantu menyusun strategi pelunasan yang realistis.

    2. Dahulukan Utang yang Mengandung Bunga atau Denda

      Prioritaskan pelunasan utang dengan biaya tambahan terbesar agar potensi riba segera berhenti.

      Strategi ini efektif secara finansial sekaligus menenangkan secara spiritual.

      3. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

        Islam mengajarkan hidup sederhana dan menjauhi israf (berlebih-lebihan).

        Mengurangi belanja non-esensial memberi ruang untuk mempercepat pelunasan utang.

        4. Hentikan Penggunaan Paylater Baru

          Menggali lubang untuk menutup lubang hanya memperpanjang masalah.

          Fokus pada penyelesaian kewajiban lama sebelum mengambil komitmen baru.

          5. Bangun Dana Darurat Bertahap

            Tanpa dana darurat, kebutuhan mendadak akan kembali mendorong penggunaan paylater.

            Baca Juga :  Hindari 7 Kado Valentine Ini agar Tidak Bikin Pasangan Kecewa dan Ilfil

            Menabung sedikit tetapi rutin jauh lebih efektif daripada menunggu kondisi “sempurna”.

            6. Sisihkan Sedekah Meski Kecil

              Sedekah bukan mengurangi harta, melainkan membersihkan dan menumbuhkan keberkahan.

              Banyak orang merasakan ketenangan batin dan motivasi lebih kuat setelah tetap berbagi di tengah kesulitan.

              7. Niatkan Pelunasan sebagai Ibadah

                Melunasi utang dipandang sebagai kewajiban moral dan spiritual.

                Niat yang benar membantu menjaga konsistensi meski prosesnya tidak mudah.

                Ria Andriany RA menambahkan bahwa kebebasan finansial sejati adalah kemampuan hidup tanpa ketergantungan pada utang.

                “Perempuan yang mandiri secara finansial bukan yang paling tinggi penghasilannya, tetapi yang paling mampu mengelola keinginannya,” jelas Departemen Head Corporate Banking and E-Business Bank Sulselbar itu.

                Perjalanan keluar dari paylater mungkin terasa berat di awal, tetapi setiap cicilan yang lunas adalah langkah menuju kebebasan.

                Lebih dari sekadar angka, ini tentang memulihkan kendali atas hidup, martabat, dan masa depan. (*)

                Penulis : Nurwahida