Ketiganya menyatakan kesiapan instansi masing-masing untuk membuka ruang kerja sama lintas sektor sesuai bidangnya.

Diskusi juga menggarisbawahi pentingnya pelestarian budaya lokal di tengah tantangan globalisasi dan digitalisasi. Para peserta sepakat bahwa pemuda dan mahasiswa memiliki peran sentral sebagai agen perubahan sosial dan penjaga nilai-nilai kebudayaan.

Pertemuan ini ditutup dengan semangat kolaboratif dan komitmen bersama untuk menjadikan Makassar sebagai kota inklusif, toleran, dan kaya akan keberagaman budaya. (*)

Penulis : Penny Yuniasri

Baca Juga :  Ratnawati Arif Hadiri Pelantikan Pengurus KONI Sinjai Periode 2025–2029, Tekankan Pembinaan Atlet Muda