PARAPUANG.com – Andi Salmawati, SH., M.Kn, atau yang akrab disapa Andi Emma, adalah sosok perempuan yang memilih jalur hidupnya dengan penuh kesadaran.

Lahir di Sengkang pada 20 Desember 1967, ia awalnya bercita-cita menjadi seorang dokter.

Namun, jalan berkata lain, ia memutuskan untuk mengambil jurusan Hukum di Universitas Hasanuddin (Unhas).

Pilihan itu ternyata bukan sebuah kebetulan, menurutnya, ilmu hukum adalah fondasi yang diperlukan di semua lini kehidupan.

“Ekonomi, politik, budaya, sosial semuanya butuh kepastian hukum. Jadi, saya merasa pilihan ini tetap tepat,” kenangnya.

Setelah menuntaskan studi S1, ia melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 Hukum Kenotariatan di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Keputusan Andi Salmawati mendalami ilmu kenotariatan berangkat dari satu pandangan sederhana, profesi notaris memberikan fleksibilitas.

“Notaris bisa membuka kantor sendiri, sehingga bisa mengatur ritme kerja, jam kerja dan manajemen kantor sesuai gaya kepemimpinan pribadinya,” ujarnya.

Baca Juga :  Sosok Lucy Guo, Perempuan Miliarder Muda di Balik Scale AI

Bagi ibu empat anak ini, fleksibilitas itu penting karena bisa membagi waktu antara mengurus rumah tangga dan menyelesaikan urusan kantor tanpa harus mengorbankan salah satunya.

Lulus S2 dengan titel Magister Kenotariatan, ia kemudian membukan kantor notaris di Kabupaten Gowa.

Menurut perempuan yang hobi menyanyi itu, notaris termasuk profesi yang sangat dihormati di masyarakat. Sebab, notaris berhubungan langsung dengan urusan hukum, perjanjian penting dan dokumen resmi negara.

Klien yang datang ke kantornya pun beragam; mulai dari pengusaha, pejabat, masyarakat umum, perbankan, hingga perusahaan besar.

“Hal ini memberi kesempatan membangun relasi yang luas,” katanya.

Meski demikian, Andi Salmawati mengaku merasa sangat puas dengan profesinya.

Ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa membantu orang menyelesaikan urusan hukum dengan aman, rapi dan terjamin keabsahannya.

Baca Juga :  Innalillahi, Ibu Mita The Virgin Meninggal Dunia: "Mama Segalanya Buat Hidupku"

Baginya, menjadi notaris adalah kesempatan untuk mengabdi kepada masyarakat sekaligus menjaga marwah hukum.

Meski terlihat prestisius, profesi notaris juga penuh risiko karena setiap akta yang dibuat memiliki konsekuensi hukum.

“Jika terjadi kesalahan atau kelalaian, notaris bisa terkena sanksi pidana, perdata, bahkan kode etik profesi hingga dibekukan sebagai notaris,” jelasnya.

Tantangan lain adalah ketika ada klien yang meminta “jalan pintas” atau menitipkan kepentingan yang bertentangan dengan aturan.

“Menolak bisa berisiko kehilangan klien, tapi menerima bisa membahayakan integritas hukum. Jadi harus pandai-pandai kita mengambil keputusan,” tegasnya.

Perempuan murah senyum itu selalu menekankan pentingnya integritas.

Baginya, menjadi notaris berarti siap dengan tantangan mental dan etika.

“Kalau ingin aman, usahakan selalu mengikuti regulasi terbaru, membiasakan double-check dokumen sebelum ditandatangani,dan mencatat semua proses secara detail sebagai perlindungan jika suatu saat ada gugatan,” jelasnya.

Baca Juga :  Dedikasi Tanpa Batas Hadija Abdullah, Sekretaris Eksekutif HIPMI Sulsel yang Setia Hingga Lima Kepemimpinan

Ia juga menegaskan sikapnya dalam menghadapi klien dengan selalu menolak jika permintaan melanggar hukum.

“Komunikasi persuasif penting, menjelaskan risiko hukum pada klien, tapi yang terpenting adalah menjaga reputasi. Lebih baik kehilangan klien daripada kehilangan integritas,” tekannya.

Dalam menghadapi persaingan antar notaris, Andi Salmawati memilih berfokus pada profesionalisme dan pelayanan prima.

Ia selalu siap melayani masyarakat yang ingin konsultasi di mana saja dan kapan saja.

Selain itu, ia juga aktif membangun jejaring dengan berbagai pihak, seperti advokat, PPAT, pengusaha, organisasi, hingga lembaga perbankan.

“Alhamdulillah dengan cara itu, saya masih bisa eksis sampai sekarang,” tutupnya dengan senyum tenang. (*)

Penulis : Nurwahida