PARAPUANG.com – Bonus akhir tahun selalu terasa seperti “uang kejutan” yang datang di saat tepat.
Keuangan terasa lebih longgar, rencana belanja bermunculan, sementara iming-iming investasi juga menggoda.
Survei OJK 2025 ungkap, 60% orang Indonesia habiskan bonus impulsif, padahal inflasi 3,5% bikin uang “mentok”.
Pertanyaan klasik pun muncul: sebaiknya bonus ditabung, diinvestasikan, atau dibelanjakan?
Keputusan ini tidak sekadar soal selera, melainkan bagian penting dari perencanaan keuangan yang berdampak panjang, terutama di tengah inflasi yang masih fluktuatif.
Banyak orang memperlakukan bonus layaknya durian runtuh. Padahal, menurut perencana keuangan, bonus adalah momentum strategis untuk memperbaiki kondisi finansial.
Dr. (Cand) Ria Andriany R.A., S.H., M.M., RIFA®, CIWP, CPS, seorang finansial planner menilai bonus seharusnya diperlakukan berbeda dari gaji rutin.
“Bonus bukan penghasilan tetap, sehingga idealnya diarahkan untuk tujuan finansial jangka menengah dan panjang. Cara ini membantu menjaga stabilitas keuangan, terutama saat kondisi ekonomi tidak pasti,” ujarnya.
Langkah pertama yang disarankan adalah mengecek “fondasi rumah” keuangan dimana dana darurat menjadi prioritas utama.
“Idealnya, dana darurat setara tiga hingga enam bulan pengeluaran rutin, banyak orang melewatkan tahap ini karena tergoda investasi,” ucap Department Head Corporate Banking and E-Business Bank Sulselbar itu,
Analogi sederhananya, investasi tanpa dana darurat ibarat menanam pohon di tanah yang belum dipadatkan.
Khusus di Sulawesi Selatan, rata-rata karyawan bank menerima bonus akhir tahun Rp 20-50 juta, bisa untuk dana darurat selama 6 bulan.
Setelah dana darurat aman, investasi bisa menjadi pilihan berikutnya.
Ria Andriany R.A. menekankan pentingnya menyesuaikan instrumen dengan profil risiko dan tujuan hidup.
“Generasi muda dan Gen Z, misalnya, cenderung memiliki horizon waktu lebih panjang sehingga bisa mempertimbangkan reksa dana saham atau indeks. Perempuan pekerja dan pelaku UMKM dapat memilih kombinasi campur obligasi ditambah saham moderat, jaga cash flow usaha.” jelasnya,
Nilai iInvestasi tidak harus besar, konsistensi jauh lebih penting daripada nominal, semisal mulai dari Rp 1 juta sebagai top-up portofolioinvestasi moderat agar arus kas tetap sehat.
Bonus bisa menjadi setoran awal atau top up untuk portofolio yang sudah ada.
Lalu, apakah belanja sepenuhnya dilarang? Jawabannya tidak.
Belanja tetap perlu, terutama untuk menjaga kesehatan mental setelah bekerja keras setahun penuh.
Wakil Sekretaris I HIPMI Syariah Sulawesi Selatan itu menyarankan porsi belanja yang terencana dan sadar tujuan.
“Pengeluaran untuk upgrading diri, seperti kursus, sertifikasi, atau alat kerja produktif, justru dapat meningkatkan nilai ekonomi di masa depan,” sarannya.
Proporsi sederhana bisa menjadi panduan awal, semisal sekitar 30 persen bonus dialokasikan untuk kebutuhan atau keinginan pribadi atau dibelanjakan, 30–40 persen untuk investasi, sementara sisanya memperkuat dana darurat atau melunasi utang berbunga tinggi.
Pola ini fleksibel, menyesuaikan kondisi masing-masing.
Literasi finansial menjadi kunci agar bonus tidak “hilang tanpa cerita”.
Meski inklusi keuangan terus membaik, kesadaran ini penting agar masyarakat tidak hanya memiliki akses produk keuangan, tetapi juga mampu mengelolanya secara bijak.
Perempuan yang hobi bermain golf itu menutup dengan pesan reflektif, “Bonus akhir tahun sebaiknya meninggalkan jejak, bukan sekadar kenangan belanja. Pilihan kecil hari ini menentukan rasa aman finansial di masa depan.”
Keputusan akhirnya kembali ke tangan masing-masing, bonus boleh dinikmati, tetapi perencanaan membuatnya lebih bermakna. (*)
Penulis : Nurwahida

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.