PARAPUANG.com – Isu kesenjangan pendapatan antara pekerja dan pejabat kembali menjadi sorotan publik, kali ini suara lantang datang dari aktris sekaligus aktivis muda, Cinta Laura Kiehl.

Dalam sebuah video monolog yang ia unggah melalui akun Instagram pribadinya, @claurakiehl, perempuan kelahiran Jerman, 17 Agustus 1993 itu menyoroti ketimpangan kesejahteraan pekerja Indonesia dengan merujuk pada data resmi Badan Pusat Statistik (BPS).

Cinta Laura mengungkap fakta mengejutkan: sekitar 47 persen dari 53 juta pekerja di Indonesia masih menerima upah di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP).

“Ini bukan sekadar angka. Bayangkan, gaji Rp3,1 juta per bulan itu sering kali harus membiayai satu keluarga, bukan hanya satu orang,” ujar Cinta Laura dalam monolognya yang viral.

Baca Juga :  Tidur di Sisi Kiri atau Kanan, Mana Lebih Baik untuk Perempuan?

Alumni Columbia University, New York itu juga menyoroti kontrasnya kondisi pekerja dengan pendapatan pejabat negara, khususnya anggota DPR, yang bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan dari gaji dan tunjangan.

Menurut Cinta, ketidakpekaan pejabat terhadap kondisi rakyat menjadi salah satu sumber kekecewaan publik. Ia bahkan menyinggung pernyataan blunder seorang pejabat yang menyebut Rp3 juta dikali 26 hari sama dengan Rp78 juta per bulan.

“Ini bukan hanya soal hitungan yang keliru, tapi soal rasa keadilan,” tegasnya.

Cinta menekankan bahwa kemarahan masyarakat bukan karena iri, melainkan karena logika keadilan dianggap diabaikan.

Baca Juga :  Melinda Aksa Munafri Canangkan Gerakan Literasi Keluarga Melalui 'Ibu Suka Membaca'

“Guru diberi Rp3 juta sebulan sudah bersyukur, tapi ada pejabat yang merasa Rp3 juta per hari itu kurang. Rakyat marah karena nurani mereka terluka,” ungkapnya.

Sebagai penutup, pemeran Nicole dalam film The Ninth Passenger itu melontarkan kalimat yang menohok:

“Rakyat enggak butuh pejabat yang jago berhitung tunjangan. Rakyat butuh pemimpin yang jago menghitung nurani.”

Suara lantang Cinta Laura ini bukan hanya sekadar kritik, melainkan juga menjadi pengingat bahwa isu ketenagakerjaan dan kesenjangan sosial kini tak lagi sebatas perdebatan serikat pekerja atau ekonom, tetapi sudah masuk ke ranah budaya populer. (*)

Penulis : Alin Imani