
“Gimana Makassar dengan kekayaan budayanya terus menjadi kota yang adaptif terhadap tantangan masa depan,” tulisnya pada keterangan foto.
Selain itu, terdapat pula game yang dipasang di Virtual Reality (VR) headset berupa permainan tradisional Lambasena (lompat tali) yang pada jaman dulu kala menjadi permainan favorit anak-anak.
“Namun, kini sudah jarang yang memainkannya karena anak-anak takut panas dan lebih memilih main game di gadget, karena itu dibuatlah secara virtual, sebagai bentuk pelestarian dan mengenalkan budaya Makassar ke pengunjung pameran,” ujar perempuan kelahiran 4 Agustus 1995.
Juga ada teknologi urban farming yang canggih yang memadukan budidaya selada dan ikan secara bersamaan dan tak kalah menarik adalah pertunjukan melukis dengan media tanah liat yang sudah jadi tradisi dari ratusan tahun lalu.
“Di balik semua ini, ada teamwork yang luar biasa supaya semua lancar dan rapih, pokoknya semua yang keren dan ribet pasti bisa, asal dikerjakan bareng-bareng hahahaha,” tulisnya di akhir caption.
Unggahan ini kemudian mendapat sejumlah respon positif dari warganet.
“Very slay kalo istilah gen z , and we are so proud being part of it .. Apeksi 2025” tulis akun @wawarachman.(*)
Penulis : Nurwahida

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.