PARAPUANG.com – Valentine selalu manis di etalase, tetapi sering terasa pahit di laporan keuangan.

Banyak UMKM mencatat lonjakan omzet jelang hari kasih sayang, tetapi tak sedikit yang kembali kelimpungan satu bulan kemudian.

Uang masuk deras, namun arus kas justru kering tanpa disadari.

Bagi pelaku UMKM perempuan, Valentine seharusnya tidak berhenti pada euforia penjualan musiman.

Di balik kemasan cantik dan promosi romantis, tersimpan peluang besar membangun cash flow yang sehat sekaligus memperkuat strategi keuangan UMKM.

Momen ini menjadi titik krusial ketika kreativitas bertemu perencanaan finansial yang matang.

Pola yang sering terjadi terbilang berulang.

Penjualan melonjak tajam jelang Valentine, lalu turun drastis setelahnya.

Masalah utama bukan pada produk atau pasar, melainkan pengelolaan arus kas.

Tanpa strategi, keuntungan cepat menguap seperti cokelat yang meleleh.

Padahal, satu musim puncak bisa menjadi pijakan menuju stabilitas keuangan sepanjang tahun.

Financial planner Dr. (Cand) Ria Andriany R.A, S.H., M.M., RIFA®, CIWP, CPS menekankan pentingnya sudut pandang jangka dan menengah bagi UMKM perempuan.

Baca Juga :  Kenapa Kurma Jadi Makanan Favorit saat Iftar? Ini Khasiatnya bagi Perempuan Menurut Ahli

“Pelaku usaha perlu mengubah pola pikir dari sekadar laku hari ini menjadi berdaya untuk jangka panjang. Momentum Valentine sangat ideal untuk melatih disiplin cash flow dan literasi finansial,” ujarnya.

Pendekatan ini relevan karena banyak UMKM perempuan dikelola bersamaan dengan peran domestik.

Perempuan yang kini menjabat sebagai Department Head Corporate Banking and E-Business Bank Sulselbar ini menyoroti bahwa keputusan keuangan UMKM kerap bercampur dengan kebutuhan keluarga.
Tanpa pemisahan yang jelas, laba usaha mudah terserap konsumsi.

“Ibarat hadiah Valentine, kesan awal boleh manis, tetapi nilai jangka panjang ditentukan oleh makna dan keberlanjutannya,” ucapnya.

Agar hal itu tidak terjadi lagi, berikut 5 (lima) strategi keuangan ala Ria Andriany RA yang dapat diterapkan pelaku UMKM jelang Valentine.

1. Pisahkan modal dan keuntungan sejak awal

    Pemisahan modal dan keuntungan membantu pelaku UMKM melihat kondisi keuangan usaha secara objektif.

    Baca Juga :  7 Strategi Syariah ala Ria Andriany RA untuk Lepas dari Jerat Utang Paylater

    Langkah ini mencegah penggunaan dana bisnis untuk kebutuhan konsumtif yang tidak terencana.

    Struktur keuangan yang rapi juga memudahkan evaluasi laba bersih setelah musim Valentine berakhir.

    2. Hitung ulang harga pokok penjualan musiman

      Kenaikan harga bahan baku menjelang Valentine perlu dihitung ulang agar tidak menggerus margin keuntungan.

      Perhitungan harga pokok penjualan yang akurat membantu menentukan harga jual yang realistis dan kompetitif.

      Strategi ini penting untuk menjaga arus kas tetap sehat di tengah tekanan inflasi bahan pangan dan logistik .

      3. Manfaatkan sistem pre-order untuk menjaga arus kas

        Sistem pre-order membantu mengamankan pesanan sebelum produksi dimulai sekaligus menjaga likuiditas.

        Misalnya, pelaku usaha cokelat rumahan bisa mengunci pesanan sejak H-7 agar belanja bahan baku sesuai kebutuhan, bukan spekulasi.

        4. Sisihkan laba Valentine sebagai dana cadangan usaha

          Lonjakan pendapatan musiman sebaiknya tidak dihabiskan seluruhnya untuk ekspansi spontan.

          Baca Juga :  Bonus Akhir Tahun: Tabung, Investasikan, atau Belanjakan? Ini Saran Ria Andriany R.A.

          Sebagian laba perlu dialokasikan sebagai dana cadangan untuk menghadapi periode penjualan rendah.

          Dana ini berfungsi sebagai bantalan keuangan saat terjadi perlambatan ekonomi atau penurunan daya beli .

          5. Evaluasi performa keuangan setelah musim berakhir

            Evaluasi keuangan pasca-Valentine membantu pelaku UMKM memahami efektivitas strategi yang diterapkan.

            Data penjualan dan biaya menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih baik di masa depan.

            Ria Andriany RA menambahkan bahwa ketika pelaku UMKM disiplin mencatat dan merencanakan, bank melihat bisnis tersebut lebih bankable.

            “Valentine akhirnya bukan hanya cokelat terjual habis tetapi juga tentang strategi keuangan yang tepat. Momentum ini bisa menjadi latihan mengelola uang dengan sadar, terukur, dan berorientasi masa depan,” pungkasnya.

            Dengan pendekatan ini, Valentine tak lagi sekadar perayaan musiman. Momen ini dapat menjadi titik awal UMKM perempuan membangun bisnis yang lebih sadar finansial, tahan banting, dan bankable sepanjang tahun. (*)

            Penulis : Nurwahida