PARAPUANG.com – Di tengah hiruk pikuk Kota Makassar, ada sosok perempuan sederhana yang mengabdikan hidupnya untuk mereka yang terpinggirkan dari dunia pendidikan.

Dialah Dewi Natalia, SE, AK, MSi, CA, pendiri Yayasan Dewi Natalia, sebuah lembaga nirlaba yang telah membuka jalan pendidikan bagi ratusan warga kurang mampu dan putus sekolah sejak tahun 2012.

Berlokasi di Kompleks Permata Regency Blok I No.6, Sudiang Raya, Kecamatan Biringkanaya, yayasan ini hadir sebagai wadah harapan dan perubahan, bukan sekadar memberi pelajaran, tapi memberikan kehidupan baru.

Inspirasi mendirikan yayasan bermula dari kisah sehari-hari yang menyentuh hati.

“Sejak pagi buta mereka sudah bangun, bukan untuk sekolah, tapi memulung plastik, besi tua dan kardus di tempat sampah,” kenang Dewi penuh haru, mengingat anak-anak di sekitar rumahnya yang bekerja keras demi mendapatkan uang dan bertahan hidup.

Baca Juga :  Kirey, Perempuan di Balik Brand Bulu Mata Lokal yang Lahir dari Intuisi Bisnis

Tak hanya memulung, sebagian dari mereka menjadi peminta-minta atau berjualan di lampu merah.

“Saya membayangkan, jika mereka tidak sekolah, hidup mereka akan terus begitu, tidak akan ada perubahan,” ucapnya.

Kepedulian itulah yang menggerakkan alumnus Magister Manajemen Keuangan Universitas Hasanuddin itu mendirikan Yayasan Dewi Natalia.

Sebuah langkah besar untuk menekan angka putus sekolah, khususnya di wilayah Makassar dan sekitarnya.

Melalui yayasan ini, Dewi Natalia membentuk Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang menyelenggarakan program paket A setara SD, paket B setara SMP, paket C setara SMA.

Program ini memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang terpaksa berhenti sekolah karena berbagai kendala, seperti; ekonomi, sosial, atau geografis.

“Belajar di PKBM lebih fleksibel, bisa dilakukan di mana saja, yang penting ilmu tersampaikan dan di akhir program mereka tetap mendapat ijazah yang legal,” jelas Dewi.

Baca Juga :  Fakta Menarik Vina Anggi Sitorus, Ratu Baru Miss Grand Indonesia 2025

Sayangnya, banyak peserta didik yang usianya sudah di atas 21 tahun, sementara bantuan pendidikan pemerintah hanya berlaku sampai usia tersebut.

“Sehingga saya harus berupaya keras mencari dana operasional dari berbagai pihak, agar program ini terus berjalan dan tidak memberatkan peserta didik,” bebernya.

Yayasan ini tak hanya fokus pada akademik, Dewi Natalia dan timnya yang kini berjumlah 16 orang turut membekali peserta dengan softskill seperti tata rias, menjahit, dan keterampilan bengkel.

Tujuannya, agar mereka memiliki bekal untuk mencari pekerjaan atau membuka usaha mandiri.

“Kami ingin mereka bukan hanya punya ijazah, tapi juga keterampilan hidup yang nyata sebagai bekal untuk mereka bisa berwirausaha atau mendapatkan pekerjaan,” tegasnya.

Baca Juga :  Maria Corina Machado Raih Nobel Perdamaian 2025, Simbol Perjuangan Demokrasi Venezuela

Tak hanya bergerak di bidang pendidikan, Yayasan Dewi Natalia juga rutin menggelar kegiatan sosial seperti sunatan dan nikah massal.

“Sunatan massal biasanya diikuti 250 orang anak itu dilakukan 2 (dua) kali setahun yakni di Bulan Juni dan Desember, kalau nikah massal yang baru-baru ini kita laksanakan pesertanya ada 50 pasang,” sebut dosen STIE Pelita Buana itu.

Nama yayasan yang menggunakan nama pendirinya bukan sekadar identitas, tapi juga bentuk tekad untuk menjadikan perjuangan ini sebagai warisan kebaikan yang abadi.

Dewi Natalia ingin dikenang bukan hanya sebagai nama, tetapi sebagai simbol harapan yang menyala bagi mereka yang pernah hampir menyerah dalam hidup. (*)

Penulis : Nurwahida