PARAPUANG.com – Ramadhan sering disebut bulan penuh berkah, tetapi bagi banyak perempuan, juga menjadi “musim ujian” bagi dompet.

Promo besar, flash sale tengah malam, hingga paket hampers lucu membuat rencana keuangan mudah goyah.

Tanpa strategi yang tepat, diskon Ramadhan bisa berubah dari peluang hemat menjadi sumber pemborosan impulsif yang mengganggu stabilitas keuangan keluarga.

Fenomena ini bukan sekadar soal kurang disiplin, melainkan juga efek psikologis.

Menurut Dr. (Cand) Ria Andriany R.A, S.H., M.M, RIFA®, CIWP, CPS, seorang financial planner menuturkan bahwa otak manusia cenderung menganggap diskon sebagai ‘keuntungan’, meski barangnya tidak benar-benar dibutuhkan.

“Banyak perempuan membeli baju Lebaran berlebihan atau peralatan dapur tambahan hanya karena harganya terlihat murah,” ujarnya.

Baca Juga :  Mengapa Orang Pintar Justru Sering Gagal Mengatur Keuangan? Begini Analisa Menarik dari Ria Andriany RA

Perempuan yang menjabat sebagai Department Head Corporate Banking and E-Business Bank Sulselbar menyebutkan bahwa pengeluaran Ramadhan seharusnya direncanakan sejak awal, belanja tanpa prioritas berisiko mengganggu cash flow setelah Idulfitri.

“Diskon bukan musuh, tetapi keputusan impulsif yang tidak terkontrol bisa merusak perencanaan keuangan, perempuan perlu memegang kendali, bukan dikendalikan promo,” ucapnya.

Agar tetap bisa menikmati suasana Ramadhan tanpa rasa bersalah setelahnya, berikut 6 (enam) strategi belanja rasional yang bisa diterapkan.

1. Tetapkan Anggaran Khusus Ramadhan

    Pisahkan dana Ramadhan dari anggaran bulanan utama agar pengeluaran tetap terkendali.

    Batas finansial yang jelas membantu otak menolak pembelian di luar rencana.

    2. Buat Daftar Prioritas, Bukan Wishlist

      Fokus pada kebutuhan pokok seperti bahan makanan, zakat, atau kebutuhan ibadah.

      Baca Juga :  Instagram Map Kini Hadir di Indonesia, Begini Cara Kerja dan Menonaktifkannya

      Wishlist cenderung berkembang tanpa batas, sementara daftar prioritas menjaga belanja tetap rasional.

      3. Hindari Belanja Saat Lapar atau Lelah

        Kondisi fisik memengaruhi kontrol diri, terutama saat puasa.

        Belanja dalam keadaan lelah meningkatkan peluang keputusan emosional.

        4. Bandingkan Harga Sebelum Checkout

          Promo tidak selalu berarti harga terbaik.

          Perbandingan singkat antar toko sering menunjukkan bahwa ‘diskon besar’ hanyalah ilusi pemasaran.

          5. Gunakan Metode Pembayaran Terbatas

            Pembayaran tunai atau e-wallet dengan saldo tertentu membantu menahan overspending.

            Kartu kredit sering membuat pengeluaran terasa tidak nyata.

            6. Ingat Tujuan Finansial Jangka Panjang

              Bayangkan dana darurat, pendidikan anak, atau rencana investasi sebelum membeli.

              Perspektif masa depan membantu menekan kepuasan sesaat.

              Baca Juga :  Sering Overbudget Saat Ramadhan? Ini 7 Cara Cerdas Hemat Belanja Tanpa Terasa Pelit

              Belanja Ramadhan sebenarnya bisa menjadi momen latihan literasi finansial.

              Ria Andriany R.A menambahkan bahwa perempuan yang terbiasa mengelola pengeluaran musiman cenderung lebih stabil secara ekonomi sepanjang tahun.

              “Kebiasaan kecil seperti menolak satu pembelian impulsif setiap hari dapat menghasilkan penghematan signifikan hingga jutaan rupiah dalam sebulan,” tekannya.

              Ramadhan, lanjutnya bukan tentang seberapa banyak barang yang dibeli, melainkan seberapa bijak kita memaknai keberkahan.

              “Dompet yang sehat setelah Lebaran adalah hadiah terbaik bagi diri sendiri, bahkan lebih memuaskan daripada tas diskon 70 persen yang akhirnya jarang dipakai,” pungkasnya. (*)

              PENULIS : Nurwahida