Meski permintaannya untuk memakai stockings ditolak, ia tetap tampil percaya diri.
Sesekali ia memang lupa koreografi atau naskah pidato, tetapi hal itu tak mengurangi semangatnya untuk memberi inspirasi.
“Sebagai finalis tertua, saya merasa mewakili populasi lansia di Jepang. Saya ingin membuktikan bahwa usia lanjut tetap bisa tampil memesona dan berharga bagi masyarakat,” ujarnya.
Lebih dari sekadar kontes, partisipasi Sakai adalah bentuk perjuangan untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap lansia.
Ia menilai bahwa di Jepang, keberadaan orang tua sering diabaikan, berbeda dengan negara lain yang masih memberi ruang bagi tokoh senior di film maupun drama.
Meski mahkota Miss Universe Japan 2025 akhirnya diraih oleh Kaori Hashimoto (21), Sakai tetap pulang dengan kebanggaan tersendiri melalui gelar Miss Congeniality.
“Saya ingin semua perempuan, baik muda maupun tua, merasa didukung dan berani mencoba hal baru. Lansia juga pantas percaya diri, menikmati hidup, dan tetap berkarya,” tegasnya.
Kisah Junko Sakai kini menjadi simbol bahwa kecantikan dan inspirasi sejati datang dari keberanian melampaui batas, bukan sekadar usia. (*)
Penulis : Nurwahida

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.