PARAPUANG.com – Kirey Baby bukan sekadar nama panggilan, tetapi menjelma menjadi brand produk lokal.

Sosok di baliknya adalah cerita panjang tentang intuisi bisnis, kegagalan, serta keberanian membaca perubahan zaman.

Perjalanan itu tumbuh jauh dari ruang rapat korporasi atau bangku bisnis formal.

Jejak usaha Kirey Baby justru berawal dari dapur rumah, lapak kecil, dan keputusan sunyi yang sering diambil seorang diri.

Naluri berdagang tumbuh seiring peran sebagai ibu rumah tangga, dari situ, sebuah brand kecantikan lahir dan berkembang mengikuti denyut pasar secara konsisten.

Pemilik brand ini bernama lengkap Firda Purnama Sari Kulle, perempuan yang akrab disapa Kirey Baby.

Ia lahir di Sorong pada 14 September 1989 dan besar di Makassar.

Latar keluarganya menyimpan darah peranakan Manado, Jawa, serta Jepang dari sang oma.

Nama Kirey sendiri memiliki makna khusus, Omanya lah yang menjadi sosok pemberi nama kecil tersebut dan hingga kini tetap dipertahankan sebagai identitas usaha.

Baca Juga :  Sosok Lucy Guo, Perempuan Miliarder Muda di Balik Scale AI

Kirey berasal dari Bahasa Jepang yang berarti cantik, indah, bersih, atau rapi.

“Kalau Kirey itu dari Oma, sedangkan kata baby itu trend dimasa saya, gadis-gadis cantik rata-rata dipanggil baby, begitupun jika ingin menyapa sahabat,” tuturnya.

Keputusan menjadikan nama tersebut sebagai brand bukan tanpa alasan.

Kirey membangun bisnis berdasarkan kebutuhan nyata perempuan, bukan sekadar mengikuti tren kosong, fokus utama jatuh pada kualitas produk.

Saat banyak brand berlomba menawarkan kepraktisan instan, Kirey Baby memilih bulu mata palsu berbahan perpaduan rambut manusia agar terlihat natural dan aman.

Pilihan ini terbilang berani, terutama ketika tren eyelash extension sedang mendominasi pasar. Ia tidak menjual ilusi, melainkan solusi.

Naluri dagangnya sebenarnya sudah muncul sejak remaja.

Beragam usaha pernah dijalani, mulai dari berjualan makanan, tar susu, hingga sepatu high heels pada 2006.

“Namun semuanya belum menemukan ritme, ada yang bertahan agak lama, rata-rata balik modal semua baru saya putuskan berhenti,” akunya.

Baca Juga :  Sushila Karki Dilantik Jadi PM Sementara Nepal, Sejarah Baru di Tengah Gejolak

Titik balik muncul ketika ia melihat celah besar di pasar kecantikan, khususnya bulu mata palsu.

Periode 2015–2016 menjadi fase jual beli dari tangan ke tangan.

Fase krusial hadir pada 2019–2020 ketika produk mulai dikemas rapi menggunakan identitas Kirey Baby.

Dari repacking sederhana, bisnis ini tumbuh stabil hingga memasuki tahun keenam.

Bangkit dari Kegagalan dan Krisis

Perjalanan bisnisnya tidak steril dari kegagalan, kerjasama yang merugikan pernah dialami.

Beberapa di antaranya menyentuh ranah emosional, termasuk praktik love bombing berkedok bisnis.

Modal ratusan juta rupiah melayang, proyek kandas, dan kepercayaan runtuh.

“Pandemi Covid-19 pun sempat menekan omzet, namun di situlah naluri adaptif saya bekerja dengan berjualan tas anyaman,” kenangnya.

Strategi adaptasi dijalankan cepat, ia membaca tren, menggandeng UMKM di Jember, kampung halaman sang ibu, lalu memproduksi tas anyaman.

Baca Juga :  Kisah Bangkitnya Kurniah si "Ratu Kuota" dari Kerugian ke Kejayaan Baru

Pesanan 120 unit dari Jayapura menjadi penanda bahwa kreativitas dan kolaborasi mampu menyelamatkan usaha di masa krisis.

Saat ini, Kirey Baby juga merambah bisnis hijab, poduk tersebut tetap berada di bawah payung brand Kirey.

“Sebenarnya bisnis hijab ini sudah saya mulai tahun 2023 lalu, ada model segi empat hingga pashmina, seluruh produksi dikerjakan bersama konveksi keluarga,” jelasnya.

Sistem penjualan menggabungkan jalur online dan offline.

Jaringan agen telah tersebar di berbagai daerah, mulai dari Bali, Palu, Kalimantan, Jakarta, hingga Papua.

Kolaborasi bersama kreator konten dan selebgram juga dijalankan tanpa kehilangan ciri khas promosi yang natural dan jujur.

Kirey mengaku belajar bisnis bukan dari buku tebal, melainkan dari pengalaman langsung. Gagal, bangkit, lalu mencoba kembali menjadi proses yang berulang.

“Prinsipnya sederhana, ikut pasar tanpa kehilangan karakter,” ucapnya.

Ia meyakini konsistensi dan kejujuran sebagai fondasi branding terbaik. (*)

Penulis : Alin Imani