PARAPUANG.com – Di tengah ramainya pasar gawai dan pesatnya tren kendaraan listrik, nama Kurniah berdiri seperti mercusuar yang memancarkan keteguhan dan keberanian.

Publik mengenalnya dengan panggilan “Ratu Kuota”, sebuah julukan yang lahir dari perjalanan panjangnya menjual paket data dari kota ke kota, jauh sebelum dunia digital menjadi kebutuhan harian.

Kini, ia menjelma sebagai salah satu perempuan tangguh paling diperhitungkan dalam bisnis penjualan handphone dan sepeda listrik di Sulawesi Selatan.

Namun jalan menuju posisi itu sama sekali tidak mulus, ia ditempa oleh kerja keras, kecerdikan, dan sederet ujian yang nyaris menghancurkan seluruh mimpi yang ia bangun dari nol.

Lahir di Makassar, 24 Februari 1979, Kurniah tumbuh sebagai perempuan yang cepat belajar, lincah membaca peluang, dan pantang menyerah.

Setelah lulus dari SMK Negeri 1 Makassar, ia memilih langsung bekerja karena mengingat kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan.

Tahun 1997, ia diterima sebagai kasir di Gramedia Mall Ratu Indah Makassar, padahal posisi itu mensyaratkan lulusan minimal D3.

Namun, dengan bermodal ketekunan dan keyakinan, ia membuktikan diri mampu bersaing di tengah dunia retail yang ketat.

“Dari Gramedia, saya pindah ke Alaska juga sebagai kasir, lalu menjadi promotor di OKE Shop,” sebutnya.

Di sinilah kisahnya mulai berbeda, sambil bekerja, ia menjual kuota internet ke individu, toko-toko hingga ke berbagai daerah.

Baca Juga :  Andi Gita Namira, Otak Digital di Balik Transformasi Lontara+ Makassar

Aktivitas sederhana itu melekat kuat hingga akhirnya ia dijuluki “Ratu Kuota”.

Julukan itu bukan sekadar label, melainkan simbol kecerdasannya menangkap peluang bahkan ketika ruangnya sempit.

Keahliannya membaca pasar mengantarkannya pada banyak kepercayaan, ia pernah menjadi Manager Area Parepare, Barru, dan Pinrang untuk produk Huawei.

Kemudian mencoba tantangan baru di PT Media Komunika sebagai Manager Area Sulsel untuk produk HP Cina seperti Chery, Mito dan Advan.

Kariernya terus menanjak hingga menjadi SPV Realme area Makassar.

Karena kemampuan dan kegigihannya, ia bahkan pernah menjalani double job selama hampir dua tahun, digaji oleh dua prinsipal sekaligus karena performanya yang tidak tergantikan.

Momen Berani Buka Toko di Tengah Krisis dan Pandemi

Dunia lapangan membentuknya menjadi perempuan yang paham pergerakan barang, ritme pasar, strategi marketing, hingga karakter pemilik toko di berbagai kota.

Semua itu menjadi modal mental dan intelektual untuk mengambil keputusan besar yang mengubah hidupnya, membuka usaha sendiri.

Tahun 2020 menjadi titik ujian bagi banyak orang, ketika pandemi menggulung ekonomi dan membuat banyak orang menahan langkah, Kurniah justru memilih bergerak maju.

Berbekal tabungan dari gaji yang ia sisihkan selama hampir 13 tahun, ia menyewa ruko dan membuka toko handphone pertamanya di Jl. Rappocini, Makassar.

Baca Juga :  Innalillahi, Ibu Mita The Virgin Meninggal Dunia: "Mama Segalanya Buat Hidupku"

Berkat jaringan luas yang ia bangun dan pengalaman berjualan HP bertahun-tahun, tokonya bisa berkembang pesat.

Namun hidup tak pernah berjalan lurus, di tengah berkembangnya usaha, sang suami yang bertugas di Barru jatuh sakit.

Kurniah pun harus bolak-balik Makassar–Barru setiap pekan untuk merawatnya, rutinitas itu bahkan masih dilakoninya hingga hari ini.

“Setiap pekan saya harus ke Barru, untuk menemani suami kontrol ke dokter dan merawatnya,” akunya

Tokonya pun mulai tidak terurus secara maksimal, dari sinilah cobaan lebih berat datang menghampirinya.

Seorang warga keturunan menawari untuk bekerjasama menjalankan bisnis HP yang sudah dirintisnya.

“Dia bilang, fokus saja urus suamimu dan investasi, nanti saya yang tanggungjawab menjalankan bisnis,” kenangnya.

Kurniah percaya, karena sdah sangat mengenal pribadi orang tersebut apalagi dia juga tergolong pengusaha handal.

“Saya sangat percaya, beliau juga punya toko HP besar di Takalar,” sebut Kurniah

Awal kerjasama berjalan baik, hingga enam bulan kemudian, Kurniah mendapati kejanggalan dalam arus barang dan laporan keuangan.

Dia kemudian tersadar bahwa orang yang dipercaya selama ini mengurus toko justru memanfaatkan kepercayaannya.

Barang banyak yang laku namun uang hasil penjualannya tak ada.

“Total kerugian saya hampir Rp 1 Miliar, saya sampai harus jual sebagian aset, menutup toko, jual mobil. Pusing sekali waktu itu,” ucapnya.

Baca Juga :  Fakta Menarik Vina Anggi Sitorus, Ratu Baru Miss Grand Indonesia 2025
Kurniah bersama Ketua HIPMI Sulsel, Andi Amar Ma’ruf Sulaiman (tengah) dan Ketua Basnom HIPMI Syariah Sulsel, H Bahtiar

Meski sudah tertipu banyak, ia tak ingin hubungannya dengan patner bisnisnya itu terputus.

Ia bahkan sering menyempatkan waktu mengunjungi orang tersebut saat menjalani hukuman penjara.

“Alhamdulillah, setelah bebas, dia sudah berjanji untuk mengganti seluruh kerugian dan saat ini dia kembali merintis usaha untuk menebus utangnya,” ungkap Kurniah

Bagi Kurniah, setiap orang punya kesempatan untuk memulai kembali, tekanan mental yang luar biasa sempat menenggelamkannya ke titik terendah, tetapi justru dari titik itulah ia bangkit lebih kuat.

Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan Basnom HIPMI Syariah Sulsel itu lantas bangkit lagi, menemukan ruang untuk kembali berdiri, berbagi kekuatan, dan memperbaiki arah hidupnya serta mencoba peruntukan di bisnis baru.

Tahun 2024, ia dipercaya menjadi distributor sepeda listrik merek Goda di Sulsel.

Ia kembali turun ke lapangan, berkeliling Sulsel menyetir mobil sendiri dengan metode yang selalu menjadi kekuatannya: door-to-door, membangun keakraban dengan pemilik toko, dan membaca kebutuhan pasar secara jeli.

Rutinitas itu menjadi “healing sambil bekerja”, sebuah perjalanan yang memberi udara segar di tengah tekanan hidup.

Di setiap perjumpaan, ia membawa pesan sederhana namun kuat, “Kalau bisa bermanfaat, kenapa tidak? Hidup kita tidak panjang, yang penting meninggalkan kebaikan dan always Alhamdulillah.” (*)

Penulis : Nurwahida