PARAPUANG.com, Makassar – Suasana hangat dan penuh semangat menyelimuti acara Women’s Health Talkshow yang digelar pada Sabtu, 26 Juli 2025, di The Backyard, Jalan Danau Tanjung Bunga No. 58, Makassar.
Mengusung tema “Peduli Diri, Cegah Kanker pada Wanita Sedari Dini”, talkshow ini menghadirkan pakar kesehatan perempuan, Prof. dr. Upik Anderiani Miskad, Ph.D., Sp.PA(K), yang juga merupakan Co-Founder Mitosis Laboratory.
Dalam pemaparannya, Prof. dr. Upik menegaskan pentingnya edukasi dan deteksi dini kanker serviks, jenis kanker yang menyerang leher rahim dan menempati urutan kedua tertinggi setelah kanker payudara pada wanita Indonesia.
Kanker serviks merupakan keganasan yang berasal dari sel-sel di leher rahim (serviks).
Di Indonesia, penyakit ini menyumbang sekitar 6% dari total kasus kanker pada wanita.
Ironisnya, kanker ini kerap berkembang tanpa gejala hingga mencapai stadium lanjut.
“Setiap hari, sekitar 50 perempuan di Indonesia meninggal karena kanker serviks, malah pada tahun 2024 saja, lebih dari 36.000 kasus baru tercatat, padahal penyakit ini bisa dicegah dan dideteksi sejak dini,” ujar Prof. dr. Upik,
Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi Human Papillomavirus (HPV) yang ditularkan terutama melalui hubungan seksual.
Infeksi ini dapat menjadi kronis dan memicu perubahan sel yang berujung pada kanker.
Menurut, Prof. dr. Upik beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terkena kanker serviks antara lain, menikah atau melakukan hubungan seksual di usia terlalu muda, sering berganti pasangan seksual, terlalu sering melahirkan.
“Riwayat keluarga dengan kanker serviks dan tidak mendapatkan vaksinasi HPV serta deteksi dini,” sebut Professor dalam bidang Ilmu Patologi Anatom.
Gejala kanker leher rahim umumnya muncul saat penyakit sudah memasuki tahap lanjut, seperti sering nyeri panggul, pendarahan di luar masa haid, nyeri saat berhubungan intim dan keputihan yang tidak biasa atau berbau.
Salah satu langkah pencegahan terbaik adalah melakukan Pap Smear, yaitu pemeriksaan sederhana yang bertujuan untuk mendeteksi perubahan sel pada serviks, mengetahui adanya infeksi atau peradangan, mengidentifikasi penyebab keputihan yang tidak normal.
Setiap wanita, lanjut Prof. dr. Upik yang telah menikah atau pernah berhubungan seksual disarankan melakukan pap smear minimal satu tahun sekali, sesuai anjuran dokter, hingga usia 65 tahun.
Jika tiga kali hasilnya berturut-turut normal, pemeriksaan bisa dihentikan.
“Pap Smear ini bisa dilakukan di Mitosis Laboratory untuk deteksi dini kanker serviks,” terang Alumnus Kobe University Jepang
Talkshow ini menjadi pengingat penting bagi seluruh perempuan untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri sendiri.
Deteksi dini bukan hanya menyelamatkan hidup, tapi juga menjaga kualitas hidup perempuan dan keluarganya.
“Cegah sebelum terlambat, lakukan Pap Smear dan vaksinasi HPV. Jadikan peduli diri sebagai gaya hidup, jangan tunggu surat cinta dari pemerintah” pesan Prof. dr. Upik mengakhiri sesi talkshow.(*)
Penulis : Nurwahida

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.