PARAPUANG.com – Paylater kini menjadi bagian dari keseharian perempuan modern masa kini.
Mulai dari belanja kebutuhan rumah tangga, perawatan diri, hingga gaya hidup, semua terasa lebih mudah cukup dengan satu klik.
Namun di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan penting soal keuangan perempuan: apakah paylater benar-benar membantu, atau justru perlahan menjerat stabilitas finansial?
Berdasarkan hasil riset Kredivo dan Katadata Insight Center (KIC) menunjukkan bahwa proporsi jumlah transaksi payleter yang dilakukan perempuan tahun 2023 sebesar 41,1% naik dibandingkan persentasi tahun 2022 sebanyak 40,5%.
Pada 2023, rata-rata perempuan membeli 40 produk menggunakan PayLater dalam setahun.
Menurut, Dr. (Cand) Ria Andriany R.A., S.H., M.M., RIFA®, CIWP, CPS, seorang financial planner menilai akses cepat, tanpa kartu kredit, serta cicilan ringan membuat paylater terlihat seperti sahabat keuangan, namun masalah muncul ketika kemudahan tanpa perencanaan dan kesadaran arus kas.
“Banyak perempuan merasa cicilan kecil tidak berdampak besar, tetapi realitas keuangan bekerja berbeda. Cicilan yang menumpuk dari beberapa platform dapat menggerus pendapatan bulanan tanpa terasa,”katanya.
Situasi ini sering terjadi pada perempuan yang memiliki peran ganda sebagai pengelola rumah tangga dan pencari nafkah.
Ria Andriany, RA menuturkan paylater bekerja seperti pisau bermata dua, jika digunakan untuk kebutuhan produktif atau darurat yang terukur, paylater membantu menjaga likuiditas.
“Risiko muncul ketika dipakai untuk konsumsi emosional. Psikologi belanja menjadi faktor penting, terutama ketika stres, lelah, atau ingin memberi penghargaan pada diri sendiri,” jelasnya.
Perempuan yang kini menjabat Departemen Head Corporate Banking and E-Business Bank Sulselbar mengatakan bahwa perempuan sebaiknya memahami literasi finansial, seperti bunga, biaya layanan, serta konsekuensi keterlambatan pembayaran.
“Ini bukan sekadar pengetahuan teknis, melainkan bentuk perlindungan diri. Perempuan yang sadar finansial cenderung lebih selektif dan mampu menolak godaan promo instan,” ujarnya.
Paylater seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan penopang gaya hidup.
Ketika cicilan mulai melebihi 30 persen penghasilan bulanan, alarm keuangan perlu dinyalakan.
Keuangan yang sehat memberi ruang bagi perempuan untuk bertumbuh, berinvestasi, dan merencanakan masa depan tanpa kecemasan.
“Perempuan berdaya finansial adalah perempuan yang punya kendali, bukan sekadar akses,” tegas Wakil Sekretaris I HIPMI Syariah Sulawesi Selatan.
Berikut 5 Tips Bijak Menggunakan Paylater untuk Perempuan dari Ria Andriany RA
1. Tetapkan batas cicilan bulanan
Cicilan paylater sebaiknya tidak melebihi 20–30 persen dari penghasilan bulanan agar keuangan tetap bernapas.
Batas ini membantu perempuan menjaga keseimbangan antara kebutuhan hari ini dan rencana masa depan.
2. Gunakan hanya untuk kebutuhan terencana
Paylater lebih aman dipakai untuk kebutuhan penting yang sudah diperhitungkan sejak awal.
Kebiasaan ini melatih disiplin finansial dan mencegah belanja impulsif berbasis emosi.
3. Pahami seluruh biaya dan bunga
Setiap layanan paylater memiliki skema bunga dan biaya yang berbeda.
Memahaminya sejak awal membantu perempuan menghindari beban tagihan yang membengkak di akhir periode.
4. Hindari menggunakan banyak platform sekaligus
Terlalu banyak paylater membuat kontrol cicilan menjadi sulit dan rawan lupa jatuh tempo.
Fokus pada satu platform memudahkan pemantauan dan menjaga ketenangan finansial.
5. Lakukan evaluasi keuangan secara rutin
Tinjauan bulanan membantu melihat apakah paylater masih menjadi alat bantu atau mulai menjadi beban.
Evaluasi rutin memberi ruang bagi perempuan untuk memperbaiki kebiasaan keuangan sebelum terlambat.
Paylater bukan soal boleh atau tidak, melainkan soal kendali.
Setiap perempuan berhak menikmati kemudahan finansial tanpa mengorbankan ketenangan hidup di masa depan.
“Mulailah dengan satu langkah kecil hari ini: cek kembali cicilan paylater, hitung ulang batas aman, lalu putuskan dengan sadar apakah kemudahan itu benar-benar mendukung tujuan hidupmu. Keuangan yang sehat selalu berawal dari keputusan yang disadari, bukan kebiasaan yang dibiarkan,” pungkas Ria Andriany RA. (*)
Penulis : Nurwahida

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.