Laor biasanya diburu saat malam bulan purnama, ketika cacing laut keluar ke permukaan air di pesisir.

Setelah dikumpulkan, laor dimasak dengan beragam cara, mulai dari digoreng, ditumis, hingga dijadikan lauk pendamping singkong atau pisang goreng, seperti yang dikatakan Sherly Tjoanda Laos.

“Biasanya disantap sama singkong atau pisang goreng. Rasanya seperti caviar atau… mentega. Jadi ini mentega di-mix dengan cacing laut. Rasanya seperti cacing diblender. Kayak gitulah rasanya,” jelasnya sambil tertawa kecil, menunjukkan sisi humanis dan jujur dari seorang pemimpin daerah.

Aksi Gubernur terkaya se-Indonesia ini sontak menjadi perbincangan netizen.

Banyak yang kagum dengan keberanian dan keterbukaannya mencicipi makanan lokal yang mungkin terdengar ekstrem bagi sebagian orang.

Baca Juga :  Masyita Crystallin dan Tugas Besar Mengawal Stabilitas Keuangan Indonesia

Namun bagi warga Maluku Utara, laor bukan sekadar makanan, melainkan identitas dan kebanggaan budaya.

Sherly Tjoanda dikenal sebagai sosok yang dekat dengan rakyat dan aktif mempromosikan budaya lokal.

Lewat unggahan sederhana ini, ia bukan hanya memperkenalkan kekayaan kuliner Maluku Utara ke publik yang lebih luas, tetapi juga menunjukkan bahwa seorang pemimpin bisa tetap membumi, menyatu dengan masyarakat dan tradisinya.

Bagi Sherly, menyantap laor bukan soal berani atau tidak, tapi soal kembali ke akar, mengenang masa kecil, dan menghargai tradisi leluhur.(*)

Penulis : Nurwahida