PARAPUANG.com, Makassar – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perempuan Indonesia Maju (PIM) Kota Makassar menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H.
Kegiatan penuh khidmat ini berlangsung pada Kamis, 11 September 2025, di Sekretariat PIM Kota Makassar, Jl. Maccini Tengah No. 50-54.
Mengusung tema “Cahaya Maulid Nabi; Membentuk Generasi Beradab, Perempuan Berdaya, Indonesia Jaya”, acara ini menghadirkan pesan mendalam tentang keteladanan Rasulullah sebagai pedoman hidup umat.
Ketua panitia, Nurhasanah, menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum penting untuk menyalakan kembali semangat akhlak mulia.
“Tema yang kita pilih mengingatkan kita bahwa Maulid Nabi adalah sarana menyalakan kembali semangat akhlak mulia, memberdayakan perempuan sebagai tiang peradaban, serta membangun bangsa yang kuat dan bermartabat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPC PIM Kota Makassar, Herlina Amin Noor, menyampaikan bahwa tema tersebut sangat relevan dengan semangat perjuangan PIM dalam membangun peran perempuan.
“Kita ingin perempuan hadir sebagai sosok yang berdaya, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa. Karena perempuan yang kuat dan berakhlak mulia akan melahirkan generasi beradab, yang pada akhirnya mengangkat martabat Indonesia,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada seluruh pengurus yang terlibat aktif menyukseskan penyelenggaraan maulid kali ini.
“Semoga segala kebaikan yang diberikan dibalas Allah SWT dengan pahala berlipat ganda. Mari terus menjaga ukhuwah, menebarkan semangat kebersamaan, serta menjadikan ajaran Rasulullah sebagai cahaya yang menerangi jalan kita menuju Indonesia jaya,” pesannya.
Acara ini turut diisi dengan tausiah oleh Ustaz Maulana Suhardy, yang menekankan pentingnya akhlak sebagai fondasi peradaban.
“Generasi yang beradab adalah generasi yang mengedepankan akhlak di atas kepintaran. Tanpa akhlak, sehebat apapun seseorang, ia akan merusak, bukan membangun,” ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa perempuan dalam cahaya risalah Nabi bukan lagi sosok yang dipandang rendah, melainkan tiang peradaban.
“Pemberdayaan perempuan bukan berarti melawan kodrat, tetapi mengaktualisasikan potensi dengan akhlak mulia. Ketika perempuan berdaya dengan iman dan ilmu, maka umat akan kuat, keluarga akan kokoh, dan bangsa akan maju,” tutupnya. (*)
Penulis : Dwi Ayu Artantiati Putri

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.