Mereka bahkan mengantar Qisthi dan rekan-rekannya ke pemilik perahu agar bisa mendapat tumpangan evakuasi.
“Salah satu di antaranya bilang ‘ibu mau ke mana?, ibu orang PN kan?’, iya Pak, kami mau evakuasi (jawab Qisthi). ‘Oh di situ ada boat bu, ada kapal karet, mau saya antar ke situ bu?'” tuturnya.
Setelah memastikan Qisthi berada di lokasi yang lebih aman, para warga binaan itu memilih pamit.
Mereka hendak mencari keluarga masing-masing yang juga terdampak banjir.
“Sudah itu mereka langsung izin pamit ‘sudah ya bu, itu nanti ibu tunggu di sini aja biar diantar ke kantor PN, kami pamit ya bu mau jumpai keluarga’,” lanjut Qisthi.
Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam, Qisthi menilai bencana telah meruntuhkan sekat status sosial dan hukum, yang tersisa hanyalah rasa kemanusiaan.
“Pointnya lebih kepada saat bencana itu enggak ada mandang-mandang status dia siapa, aku siapa. Tapi yang dipandang dari bencana itu adalah gimana kita semua itu saling membantu selayaknya manusia,” katanya.
Proses evakuasi belum berakhir, kapal karet yang tersedia hanya satu dan diprioritaskan untuk menyelamatkan anak-anak di bantaran sungai.
Qisthi dan rekan-rekannya harus mencari jalur lain.
Penolakan sempat mereka alami saat mencoba mengungsi ke sebuah kafe.
Perjalanan berlanjut hingga menemukan Kantor BSI sebagai tempat berteduh sementara.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.