PARAPUANG.com – Resolusi keuangan awal tahun sering terdengar sederhana, tetapi terasa berat saat dijalani.

Banyak perempuan menuliskan target finansial setiap awal tahun, lalu perlahan melupakannya ketika kebutuhan harian, emosi, dan tekanan sosial datang bersamaan.

Padahal, resolusi keuangan bukan soal menahan diri berlebihan, melainkan menyusun arah hidup yang lebih tenang dan terkendali.

Memasuki 2026, tantangan finansial perempuan semakin kompleks.

Harga kebutuhan pokok bergerak naik, tuntutan gaya hidup meningkat, sementara peran perempuan kerap multitugas: pekerja profesional, ibu, pengelola rumah tangga, bahkan pelaku UMKM.

Situasi ini menuntut perencanaan keuangan yang realistis, bukan ambisius tanpa pijakan.

Menurut financial planner Dr. (Cand) Ria Andriany R.A., S.H., M.M., RIFA®, CIWP, CPS, resolusi keuangan yang gagal biasanya bukan karena target terlalu kecil, melainkan karena tidak selaras dengan kondisi hidup.

“Target finansial harus mencerminkan realitas, bukan sekadar mengikuti tren media sosial,” ujarnya.

Baca Juga :  7 Kesalahan Finansial Perempuan Muda yang Sering Tak Disadari Menurut Ria Andriany R.A

Perempuan yang menjabat sebagai Department Head Corporate Banking and E-Business Bank Sulselbar menekankan pentingnya kejujuran pada diri sendiri saat menyusun rencana keuangan.

Langkah pertama versi Ria Andriany R.A. adalah memahami posisi keuangan saat ini.

Banyak perempuan rajin menabung, tetapi tidak tahu ke mana uangnya pergi setiap bulan.

Catatan pengeluaran sederhana sudah cukup menjadi cermin.

Analogi yang sering ia gunakan adalah peta perjalanan, tanpa tahu titik awal, tujuan seindah apa pun sulit dicapai.

Langkah berikutnya adalah memisahkan target jangka pendek, menengah, dan panjang.

Target jangka pendek bisa berupa dana darurat atau pelunasan utang konsumtif.

Jangka menengah dapat diarahkan pada pendidikan anak atau modal usaha.

Sementara, jangka panjang berkaitan dengan investasi dan dana pensiun.

“Semua target boleh ada, tetapi tidak harus dikejar bersamaan,” jelasnya.

Baca Juga :  Bonus Akhir Tahun: Tabung, Investasikan, atau Belanjakan? Ini Saran Ria Andriany R.A.

Perempuan juga perlu menyadari faktor inflasi yang diam-diam menggerus nilai uang.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan Indonesia cenderung fluktuatif, terutama pada kelompok makanan dan transportasi.

Contohnya, inflasi Oktober 2025 mencapai 2,86% yang dipicu makanan (4,99%), dan November 2025 turun ke 2,72% namun transportasi naik 0,71% (dari 0,48%), menunjukkan dinamika harga yang terus berubah meski masih dalam target Bank Indonesia.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa menyimpan uang tanpa strategi tidak lagi memadai. Investasi kini beralih peran, dari pilihan tambahan menjadi kebutuhan penting untuk menjaga nilai uang dan masa depan finansial tetap aman,” tutur Ria Andriany R.A.

Instrumen sederhana seperti reksa dana atau obligasi ritel dapat menjadi awal yang aman bagi perempuan yang baru belajar investasi.

Aspek emosional sering luput dibahas, banyak keputusan keuangan perempuan dipengaruhi rasa tidak enak, ingin membahagiakan keluarga, atau takut tertinggal dari lingkungan sosial.

Baca Juga :  Paylater Membantu atau Menjebak Keuangan Perempuan? Ini Pandangan Ria Andriany, RA

Wakil Sekretaris I HIPMI Syariah Sulawesi Selatan itu mengingatkan bahwa keuangan sehat juga berarti berani berkata cukup.

“Perencanaan keuangan yang baik memberi ruang untuk bahagia hari ini tanpa mengorbankan masa depan,” ucapnya.

Resolusi keuangan 2026 sebaiknya dipandang sebagai proses, bukan daftar angka kaku.

Evaluasi berkala setiap tiga atau enam bulan jauh lebih efektif dibanding target tahunan yang dibiarkan tanpa pemantauan.

Pendekatan ini membuat perempuan lebih fleksibel menghadapi perubahan hidup, termasuk peluang baru atau kondisi darurat.

“Saat target disusun dengan sadar, berbasis data, dan selaras dengan nilai hidup, keuangan menjadi alat pemberdayaan. Tahun 2026 pun bisa dijalani dengan rasa aman, percaya diri, dan tujuan yang jelas,” pungkasnya. (*)

Penulis : Ayu Fitriana