PARAPUANG.com – Tanpa disadari, pengeluaran selama Ramadhan bisa melonjak 20–50 persen.

Mulai dari belanja takjil impulsif, stok camilan berlebihan, hingga euforia diskon jelang Lebaran.

Momen spiritual yang seharusnya menenangkan justru berubah menjadi sumber stres finansial bagi banyak perempuan yang memegang kendali dapur dan dompet keluarga.

Kenaikan harga bahan pokok pada periode ini bukan sekadar perasaan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan komponen makanan, minuman, dan tembakau hampir selalu menjadi penyumbang inflasi terbesar menjelang Ramadhan dan Idulfitri.

Pada momen awal Ramadan, Maret 2025 lalu, inflasi umum tercatat sebesar 1,65 persen, angka tersebut menjadi inflasi awal Ramadan tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Menurut financial planner Dr. (Cand) Ria Andriany R.A, S.H., M.M., RIFA®, CIWP, CPS, perempuan kerap berperan sebagai “CFO keluarga” yang menjaga stabilitas keuangan rumah tangga.

Ia menekankan bahwa berhemat bukan berarti pelit, melainkan kemampuan memprioritaskan dan mengelola arus kas secara sadar.

Baca Juga :  Hindari 7 Kado Valentine Ini agar Tidak Bikin Pasangan Kecewa dan Ilfil

“Belanja Ramadhan sebaiknya berbasis rencana, bukan emosi. Tujuannya agar ibadah terasa tenang tanpa tekanan finansial setelah Lebaran,” ujarnya.

Agar pengeluaran tetap terkendali tanpa mengurangi kualitas kebersamaan, berikut 7 (tujuh) strategi praktis yang dapat diterapkan menurut Ria Andriany R.A.

1.Susun Anggaran Khusus Ramadhan

    Pisahkan anggaran Ramadhan dari pos bulanan reguler agar arus kas lebih mudah dipantau.

    Contohnya, keluarga dengan pengeluaran bulanan Rp 5 juta dapat menyiapkan tambahan Rp 1,5 juta khusus untuk kebutuhan sahur, buka puasa, zakat, dan THR agar tidak mengganggu kebutuhan rutin.

    2. Belanja dengan Daftar Prioritas

      Masuk supermarket tanpa rencana sering berujung pembelian impulsif.

      Contoh menu mingguan sederhana seperti sayur sop, ayam kecap, tempe orek, telur balado, dan ikan goreng dapat membantu menentukan bahan yang benar-benar diperlukan.

      3. Terapkan Metode Cash Envelope

        Pisahkan uang ke dalam kategori agar batas belanja terlihat jelas.

        Baca Juga :  Dari Cokelat ke Cash Flow, 5 Strategi Keuangan bagi UMKM Jelang Valentine versi Ria Andriany RA

        Misalnya, Rp1 juta untuk bahan pokok, Rp500 ribu untuk takjil dan camilan, serta Rp300 ribu untuk sedekah selama sebulan.

        4. Manfaatkan Promo dengan Bijak

          Diskon hanya menghemat jika barangnya memang dibutuhkan.

          Membeli beras, minyak goreng, atau gula saat promo grosir jauh lebih efektif dibanding membeli camilan mahal hanya karena label potongan harga.

          5. Masak Sendiri Lebih Sering

            Berbuka di luar bisa menghabiskan Rp50–100 ribu per orang sekali makan.

            Memasak menu sederhana di rumah seperti kolak pisang, gorengan, dan nasi hangat dapat memangkas biaya hingga sekitar 30 persen sekaligus lebih sehat.

            6. Belanja di Waktu yang Tepat

              Harga bahan segar sering lebih murah di pasar tradisional pada pagi hari.

              Selisih harga ayam atau sayur bisa mencapai 10–20 persen dibanding membeli di malam hari atau di ritel modern.

              7. Sisihkan Dana Sedekah Sejak Awal

                Mengalokasikan sedekah di awal membantu menjaga disiplin pengeluaran lainnya.

                Baca Juga :  Melisa Novianti, Perempuan Cantik Asal Indonesia Pamer Mobil Terbang Seharga Rp 4 Miliar di China

                Selain itu, secara psikologis memberi justru membuat seseorang merasa cukup dan tidak terdorong konsumsi berlebihan.

                Ria Andriany RA menjelaskan strategi tersebut bukan untuk membatasi kebahagiaan, melainkan menyelaraskan pengeluaran dengan nilai Ramadhan.

                Perempuan memiliki intuisi kuat dalam mengelola rumah tangga, yang akan semakin efektif bila didukung perencanaan keuangan yang disiplin.

                Departemen Head Corporate Banking and E-Business Bank Sulselbar itu juga menegaskan stabilitas finansial berpengaruh pada kesehatan mental.

                Keputusan belanja yang sadar membuat perempuan merasa berdaya, bukan tertekan oleh ekspektasi sosial menjelang Lebaran.

                Ramadhan sejatinya mengajarkan pengendalian diri, termasuk dalam hal konsumsi.

                Ketika arus kas terkendali, ibadah terasa lebih khusyuk dan Lebaran dapat disambut tanpa beban utang atau penyesalan.

                Ramadhan bukan tentang memperbanyak belanja, melainkan memperkuat kendali diri, sebuah investasi ketenangan yang nilainya jauh melampaui isi keranjang belanja. (*)

                PENULIS : Alin Imani