Melihat suasana di dalam manajemen tim semakin kacau, dirinya sempat memohon ke pemilik saham untuk membantu lagi PSBS Biak agar marwah sepak bola di Papua tidak jelek karena adanya isu keterlambatan gaji.
“Pemain-pemain juga sudah banyak yang memberikan komplain langsung kepada saya karena telat gaji, bonus, dan lain-lain, setelah pemegang saham itu masuk lagi, baru sekarang kami bisa menyelesaikan dua laga terakhir di musim ini,” ucapnya.
Semula manajemen sepakat untuk melakukan RUPS pada 14 Mei 2025 di Biak atas desakan salah satu pemegang saham minoritas, namun batal dilaksanakan.
Eveline Sanita sendiri mengaku ingin kembali fokus pada keluarga dan bisnis pribadinya.
Ia merasa tugas besarnya di PSBS Biak sudah selesai saat klub berhasil promosi ke Liga 1 dan bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.(*)
Penulis : Nurwahida

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.