PARAPUANG.com – Bayangkan tombol “Checkout” di aplikasi e-commerce kamu tiba-tiba berubah merah dan berkedip “Diskon 70% hanya hari ini!”, jantung berdegup dan seketika kamu berpikir, “Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” Perasaan degup ini bukan kebetulan.
Inilah saat ketakutan sederhana, takut ketinggalan, Fear of Missing Out (FOMO) mengambil alih nalar. Tanpa disadari, kamu terjerumus ke dalam pola belanja impulsif yang bisa menggoyang stabilitas keuangan.
Fenomena FOMO Sale Desember kembali datang, dan banyak perempuan merasakan dorongan impulsif untuk menekan tombol checkout sebelum “diskon berakhir”.
Di era digital, ketika promo berseliweran di setiap layar, kendali emosi menjadi kunci penting dalam menjaga kesehatan keuangan.
Dalam laporan survei konsumen Bank Indonesia yang dilansir dari pusatdata.kontan.co.id, disebutkan jika beberapa tahun terakhir terlihat bahwa belanja online meningkat signifikan.
Misalnya pada tahun 2024, transaksi belanja online mencapai Rp 487,01 triliun, naik 7,3% dari transaksi 2023 Rp 453,75 triliun.
Dr. (Cand) Ria Andriany R.A., S.H., M.M, RIFA®, CIWP, CPS yang merupakan seorang financial planner menuturkan bahwa belanja online akan terus memiliki prospek cerah di masa depan, karena kemudahan akses dan strategi pemasaran yang makin agresif.
“Artinya, sebagai perempuan, yang sering memegang peran sebagai pengelola keuangan rumah tangga, semakin perlu memiliki strategi finansial yang kuat agar tidak terseret arus konsumtif yang berlebihan akibat godaan diskon,” ujarnya.
Mengapa FOMO Sangat Ampuh?
Platform belanja digital dirancang untuk memicu reaksi emosional. Notifikasi mendesak, countdown waktu, hingga tulisan “tersisa 2 barang lagi” menciptakan rasa takut ketinggalan.
Perempuan, yang terbiasa multitasking dan mengelola banyak kebutuhan sekaligus, seringkali menjadi target empuk dari trigger psikologis ini.
Keputusan impulsif paling sering terjadi ketika seseorang lelah, stres, atau mengalami tekanan sosial.
Maka, memahami kondisi emosional menjadi langkah awal untuk mengambil keputusan finansial yang lebih bijak.
Ria Andriany R.A mengatakan bahwa kunci pengelolaan keuangan perempuan di era digital adalah mindful spending, sale besar tidak otomatis berarti Anda berhemat.
“Belanja itu bagian dari kebutuhan emosional, dan itu wajar, tapi setiap keputusan harus kembali pada prioritas. Kuncinya bukan melarang diri, melainkan menguatkan kesadaran agar kita yang mengendalikan uang, bukan menuruti emosi,” jelasnya.
Pendekatan yang ia maksud bukan melulu soal menahan diri, tapi mengatur ritme belanja agar selaras dengan tujuan keuangan jangka panjang.
Perempuan yang menjabat Departemen Head Corporate Banking and E-Business Bank Sulselbar itu lalu membagikan 5 tips mengendalikan emosi belanja di era digital;
1. Buat anggaran khusus belanja akhir tahun
Menentukan batas anggaran membantu mencegah belanja impulsif saat banjir promo.
Pembagian 5–10% dari pendapatan membuat pengeluaran tetap terkendali tanpa mengganggu kebutuhan utama.
“Disiplin anggaran adalah pagar pertama yang melindungi stabilitas keuangan kita,” pesan Ria Andriany R.A.
2. Gunakan metode “tunggu 24 jam”
Menunda keputusan memberi waktu bagi otak untuk menilai apakah barang tersebut benar-benar diperlukan.
Cara ini efektif meredam dorongan emosional yang muncul saat melihat promo besar.
“Jika keinginan memudar setelah jeda, itu tanda belanja tersebut hanya didorong oleh FOMO,” tambahnya.
3. Pilah prioritas: kebutuhan vs keinginan
Memisahkan kebutuhan nyata dari sekadar keinginan membantu menjaga belanja tetap rasional.
Produk musiman atau gadget baru seringkali hanya memuaskan emosi sesaat.
“Keputusan terbaik muncul ketika kita jujur pada diri sendiri tentang apa yang benar-benar dibutuhkan,” tegas perempuan yang hobi main golf itu.
4. Sisihkan untuk investasi atau tabungan dulu
Mengalokasikan sebagian pendapatan ke tabungan atau investasi membuat belanja menjadi nomor dua, bukan prioritas utama.
Kebiasaan ini juga memperkuat fondasi keuangan dalam jangka panjang.
“Saat tabungan sudah aman, belanja tidak lagi menjadi ancaman bagi rencana keuangan,” paparnya.
5. Sadari trik pemasaran digital
Promo mendadak, hitungan waktu mundur, dan notifikasi stok terbatas dirancang untuk memicu reaksi tanpa berpikir panjang.
Menyadari pola ini membantu kamu tetap tenang dan tidak mudah terjebak.
“Saat kita paham taktik pemasaran, kontrol keputusan kembali ke tangan kita,” pungkasnya.
Sale Desember bukan musuh, bisa jadi kesempatan menghemat atau membeli kebutuhan penting. Tantangannya, jangan biarkan FOMO mengalahkan otak sehat.
Jika kamu bisa menerapkan salah satu tipis di atas, bisa jadi sale jadi berkah untukmu, bukan risiko. (*)
Penulis : Nurwahida

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.