PARAPUANG.com, Makassar – Dalam rangka memperingati World Head and Neck Cancer Day (WHNCD) 2025, Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher Indonesia (Perhati-KL) Sulawesi Selatan menyelenggarakan beragam kegiatan di area Car Free Day, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, pada Minggu, 27 Juli 2025.
Kegiatan ini mencakup senam sehat, kampanye kesadaran kanker kepala dan leher, pemeriksaan skrining dini secara gratis, serta booth konsultasi langsung dengan dokter spesialis. Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya peserta yang hadir sejak pagi.
Salah satu pembicara dalam kegiatan ini adalah Dr. dr. Nani Jufri, Sp.T.H.T.(K) yang memberikan edukasi mengenai tumor ganas nasofaring, salah satu jenis kanker kepala dan leher yang kerap tidak disadari gejalanya.
Tumor ganas nasofaring merupakan kanker yang tumbuh di bagian belakang hidung atau nasofaring, yang terletak di atas langit-langit mulut dan di belakang rongga hidung.
Penyakit ini seringkali berkembang tanpa gejala yang khas, sehingga deteksi dini menjadi sangat penting.
Menurut dr. Nani Jufri, faktor risiko yang dapat memicu munculnya kanker nasofaring antara lain genetik dan ras tertentu, infeksi Epstein-Barr Virus (EBV), kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, paparan asap pembakaran, makanan mengandung pengawet seperti ikan asin dan makanan cepat saji.
“Kurangi konsumsi makanan cepat saji karena kandungan pengawetnya dapat memicu pertumbuhan tumor nasofaring,” ungkap dr. Nani Jufri.
Gejala awal tumor nasofaring seringkali mirip dengan penyakit ringan, sehingga kerap diabaikan. Namun, penting untuk memperhatikan tanda-tanda berikut: rasa penuh atau tekanan di telinga, gangguan pendengaran atau telinga berdengung, mimisan atau hidung tersumbat, benjolan di leher, sakit kepala terus-menerus, suara menjadi sengau.
“Jika mengalami gejala-gejala ini secara terus-menerus, sebaiknya segera periksa ke dokter THT,” tegasnya.
Deteksi awal dapat dilakukan melalui pemeriksaan fisik, pengambilan jaringan dari belakang hidung untuk pemeriksaan laboratorium, serta pemeriksaan radiologi atau tes darah.
Untuk pengobatan, dr. Nani menjelaskan bahwa pasien biasanya menjalani radioterapi dan kemoterapi.
Radioterapi bertujuan membunuh sebanyak mungkin sel tumor, sementara kemoterapi menghambat pertumbuhan sel kanker.
Namun, pengobatan ini juga memiliki efek samping, seperti mulut kering dan sariawan, sulit menelan dan kehilangan nafsu makan.
Untuk mengatasinya, disarankan untuk minum air putih lebih banyak, menjaga kebersihan mulut, mengonsumsi buah dan sayur, menghindari makanan pedas dan asam, makan dalam porsi kecil namun sering.
Di akhir sesi, dr. Nani Jufri menekankan bahwa deteksi dini dan pengobatan sejak tahap awal sangat menentukan keberhasilan terapi.
Masyarakat diimbau untuk lebih peduli terhadap gejala yang muncul dan tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga medis.
“Jangan tunggu parah. Semakin dini diperiksa, semakin besar peluang sembuh,” pungkasnya. (*)
Penulis : Nurwahida

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.