PARAPUANG.com – Pengelolaan keuangan sering kali menjadi paradoks bagi sebagian orang khususnya perempuan.

Banyak perempuan berpendidikan tinggi, berkarier cemerlang, bahkan memegang posisi strategis, justru merasa keuangannya berantakan.

Tagihan menumpuk, gaji habis sebelum akhir bulan, rencana investasi tertunda, inflasi terasa makin menekan.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar, ‘mengapa orang pintar bisa gagal mengelola keuangan?’

Dr. (Cand) Ria Andriany R.A, S.H., M.M., RIFA®, CIWP, CPS seorang financial planner mengatakan bahwa masalahnya bukan pada kecerdasan akademik semata, karena literasi finansial bekerja dengan logika berbeda.

Ini menuntut kesadaran emosi, disiplin perilaku, serta kemampuan mengambil keputusan jangka panjang dan jangan terjebak ilusi ‘merasa aman’ karena sudah ada pendapatan tetap

“Perempuan pintar sering merasa pendapatannya cukup karena stabil, rasa aman itu membuat perencanaan keuangan dianggap bisa menyusul atau bahkan tidak perlu,” ujarnya.

Realitasnya, inflasi terus berjalan, harga kebutuhan naik pelan tapi pasti, tanpa perencanaan keuangan, kenaikan penghasilan kerap kalah cepat dibanding kenaikan biaya hidup.

Banyak profesional perempuan akhirnya bekerja keras hanya untuk mempertahankan gaya hidup, bukan membangun kekayaan.

Baca Juga :  Kenali 3 Jenis Pori-Pori Wajah O, U, dan Y-Shaped, Beserta Cara Mengatasinya Menurut dr. Tronny

Perempuan yang kini menjabat sebagai Departemen Head Corporate Banking and E-Business Bank Sulselbar itu menyebutkan bahwa faktor emosional juga berperan besar dalam pengelolaan keuangan.

“Keputusan belanja sering dipengaruhi stres kerja, tuntutan sosial, atau keinginan memberi yang terbaik bagi keluarga. Uang lalu berfungsi sebagai ‘penenang’, bukan alat mencapai tujuan finansial. Ini seperti kapal besar tanpa kompas. Mesinnya kuat, kapalnya mewah, tetapi arah perjalanan kabur,” jelasnya.

Riset (Economic and Development Review Committee) OECD pada November 2024 menunjukkan literasi finansial perempuan global masih tertinggal dibanding laki-laki, terutama pada aspek investasi dan manajemen risiko.

Hal itu selaras dengan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025 yang dirilis OJK. Hasilnya, indeks literasi keuangan nasional pada tahun 2025 sebesar 66,46%,
meningkat dibanding indeks literasi keuangan nasional pada tahun 2024 sebesar 65,43%.

Berdasarkan gender, SNLIK 2025 menunjukkan indeks literasi keuangan laki-laki 67,32% lebih tinggi dibandingkan perempuan 65,58%.

Data ini mencatat inklusi keuangan meningkat, tetapi pemahaman mendalam tentang produk finansial masih rendah, artinya, akses ada, kesadaran strategi belum merata.

Baca Juga :  Paylater Membantu atau Menjebak Keuangan Perempuan? Ini Pandangan Ria Andriany, RA

“Pintar secara akademik tidak otomatis membuat seseorang pintar secara finansial. Keuangan adalah soal kebiasaan kecil yang dilakukan konsisten,”ucap Ria Andriany RA.

Kabar baiknya, kegagalan finansial bukan takdir, ini bisa diperbaiki. Berikut 5 (lima) tips praktis dari Ria Andriany RA bagi perempuan untuk keluar dari jebakan ini:

1. Ubah Mindset dari Aman ke Terencana

    Rasa aman dari gaji tetap sering meninabobokan, keuangan sehat justru lahir dari tujuan jelas dan tertulis.

    “Dana darurat, proteksi, investasi, serta pensiun perlu dirancang sejak awal agar penghasilan bekerja membangun masa depan, bukan sekadar mengalir habis,” bebernya.

    2. Pisahkan Identitas Diri dari Gaya Hidup

      Banyak perempuan mengaitkan pencapaian diri dengan cara belanja, padahal, nilai diri tidak diukur dari merek atau frekuensi konsumsi.

      “Kesadaran membedakan kebutuhan dan gengsi membantu keuangan lebih terkendali serta memberi ruang tumbuh bagi tujuan jangka panjang,” pesannya.

      3. Bangun Dana Darurat sebagai Prioritas

        Dana darurat berfungsi sebagai penyangga emosi dan finansial.

        Baca Juga :  5 Kebiasaan Sehat yang Diam-Diam Berisiko Merusak Ginjal Perempuan

        Saat kondisi tak terduga muncul, tabungan ini mencegah keputusan terburu-buru seperti berutang atau mencairkan investasi.

        “Idealnya, dana darurat itu setara enam kali pengeluaran agar rasa aman benar-benar nyata,” sarannya.

        4. Kenali Profil Risiko Sebelum Investasi

          Setiap perempuan memiliki toleransi risiko berbeda, mengenali profil risiko membantu memilih instrumen yang sesuai karakter, bukan sekadar tren.

          “Investasi yang selaras membuat pikiran lebih tenang saat pasar naik turun dan keputusan tetap rasional,” terangnya.

          5. Jadwalkan Review Keuangan Berkala

            Keuangan berubah seiring fase hidup, review rutin membantu menyesuaikan anggaran, target, serta strategi investasi.

            “Kebiasaan ini membuat masalah terdeteksi lebih awal dan tujuan finansial tetap relevan, realistis, serta terarah,” tuturnya

            Perempuan memiliki kekuatan unik dalam mengelola uang, dengan ketelitian, empati dan visi jangka panjang.

            Saat literasi finansial dipadukan dengan disiplin, kecerdasan akademik akan menemukan pasangannya.

            Keuangan pun tak lagi menjadi sumber cemas, melainkan alat merdeka menentukan masa depan. (*)

            Penulis : Ayu Fitriana