Salah satu momen penting dalam hidupnya terjadi ketika ia mendengar seseorang meremehkan kemampuannya melanjutkan pendidikan tinggi hanya karena latar belakang ekonomi keluarganya.
Orang itu beranggapan bahwa sebagai anak seorang sopir dan mantan asisten rumah tangga, Dewi tidak akan mampu melanjutkan kuliah.
“Saya masih ingat bagaimana ayah dan ibu menangis mendengar perkataan itu, mereka merasa tidak bisa memberikan banyak untuk pendidikan saya. Namun, justru saat itulah saya bertekad untuk membuktikan bahwa kondisi ekonomi tidak akan menghalangi saya untuk sukses,” cerita Dewi.
Kini, setiap kali ia berdiri di depan kelas mengenakan jas laboratorium putih, Dewi membawa serta kisah ayahnya seorang pria sederhana yang mungkin tak mengerti makna gelar doktor, tapi mengerti betul arti kerja keras dan ketulusan.
Menjadi dosen di ITB adalah cita-cita yang dulunya hanya ia tuliskan di kertas kecil yang diselipkan di bawah bantalnya.
Kini, cita-cita itu menjelma nyata, di kampus legendaris itu, Dewi tidak hanya mengajar, tetapi juga aktif dalam penelitian, mendorong mahasiswa untuk berani bermimpi setinggi langit, apapun latar belakang mereka.
Dewi Agustiningsih menjadi inspirasi bahwa mimpi besar tak pernah mengenal batas sosial.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.