Perempuan dan Tekanan Multiperan
Dalam masyarakat modern, perempuan dituntut memainkan banyak peran secara bersamaan, profesional yang sukses, ibu yang penuh kasih, istri yang mendukung, anak yang berbakti, sahabat yang bisa diandalkan, dan anggota masyarakat yang aktif.

Tuntutan ini sering datang tanpa disertai ruang untuk bernapas atau berkata jujur bahwa mereka lelah.

Tidak sedikit perempuan yang merasa “harus kuat setiap saat”, mereka terbiasa menahan perasaan, memendam kegelisahan, dan melanjutkan hari meski hati penuh beban.

Ketika mereka mengeluh, stigma pun datang: terlalu sensitif, tidak bersyukur, atau kurang beriman. Akibatnya, banyak perempuan memilih diam, tersenyum di luar sambil menangis di dalam.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI (2024), tingkat gangguan kecemasan dan depresi pada perempuan meningkat hingga 25% dalam lima tahun terakhir.

Baca Juga :  Momentum Hari Kartini, Melinda Aksa Munafri Ajak Perempuan Makassar Wujudkan Kemandirian Finansial

Pandemi COVID-19 menjadi pemicu, tetapi tekanan struktural dan sosial adalah akar masalah yang lebih dalam.

Perempuan dua kali lebih rentan mengalami gangguan mental dibanding laki-laki, sebagian besar disebabkan oleh tekanan peran sosial dan ketimpangan dalam relasi kuasa.