Ketika bekerja keras tetapi tidak diakui, ketika berbicara tetapi tidak didengar, ketika harus memilih antara karier dan keluarga, semua itu menjadi tekanan mental yang terus menerus.

Di titik tertentu, tekanan itu berubah menjadi kelelahan kronis, gangguan kecemasan, bahkan depresi.

Dalam laporan WHO tahun 2024, perempuan usia produktif lebih rentan mengalami burnout dan gangguan mental akibat stres berlapis.

Terutama perempuan yang berperan sebagai pencari nafkah sekaligus pengasuh utama dalam keluarga.

Apalagi di masyarakat kita, kesehatan mental masih sering dianggap tabu, dan perempuan yang mengalami gangguan psikis kerap distigma sebagai “lemah” atau “tidak waras”.

Baca Juga :  Paula Verhoeven Cerai, Dituding Selingkuh, Laporkan Hakim dan Fakta Menarik di Baliknya