Namun, bagaimana mungkin seorang ibu bisa mendidik dengan penuh cinta bila dirinya sendiri tidak dipulihkan, tidak ditenangkan, dan tidak diperhatikan?

Hari Kartini seharusnya menjadi momen reflektif: sudahkah kita memuliakan perempuan bukan hanya dengan pujian, tetapi dengan sistem yang melindungi kesejahteraan mental mereka?

Jalan Pemulihan: Dari Empati ke Aksi Nyata
Maka, Hari Kartini 2025 tidak hanya perlu diisi dengan upacara simbolik atau lomba berkebaya.

Lebih dari itu, hari ini harus menjadi momen untuk menata ulang cara kita melihat kesehatan mental perempuan sebagai bagian integral dari perjuangan emansipasi.

Perempuan hari ini tidak lagi hanya memperjuangkan akses ke sekolah atau hak suara.

Mereka memperjuangkan hal yang lebih subtil, namun sangat fundamental: kebebasan untuk menjadi manusia seutuhnya, yang boleh lelah, boleh marah, boleh bahagia dan boleh rapuh.

Baca Juga :  6 Tips Awet Muda Alami Tanpa Skincare Mahal, Rahasia Perempuan Korea Terungkap

Jiwa yang merdeka, itulah cita-cita Kartini yang paling mendalam.