PARAPUANG.com – Bertengkar dalam hubungan ternyata tidak selalu berdampak buruk bagi pasangan.

Perbedaan pendapat justru bisa menjadi cara untuk membangun komunikasi yang lebih jujur, memahami kebutuhan emosional, hingga mempererat hubungan jangka panjang.

Banyak pasangan memilih menghindari konflik karena takut hubungan berakhir.

Padahal, perdebatan kecil adalah hal yang wajar dalam relasi dua orang dengan karakter dan cara berpikir berbeda.

Terus memendam emosi demi menjaga suasana tetap tenang justru dapat menguras energi dan memicu masalah baru di kemudian hari.

“Mustahil ada pasangan yang menjalani hubungan tanpa pernah berselisih atau berbeda pandangan,” kata psikolog Mark Travers dalam tulisannya di Forbes, disadur pada Rabu, 20 Mei 2026.

Berbagai penelitian menunjukkan, konflik yang diselesaikan secara sehat mampu meningkatkan kualitas hubungan secara signifikan.

Perselisihan tidak selalu menjadi ancaman, selama pasangan mampu mengelolanya dengan kepala dingin dan komunikasi yang jelas.

1. Membantu komunikasi lebih jujur dan terbuka

    Konflik sering kali menjadi momen untuk menyampaikan hal-hal yang selama ini dipendam.

    Baca Juga :  Kenapa Kurma Jadi Makanan Favorit saat Iftar? Ini Khasiatnya bagi Perempuan Menurut Ahli

    Contohnya ketika pasangan melontarkan lelucon pribadi di depan teman-teman hingga membuat pasangannya merasa tidak nyaman.

    Reaksi marah tanpa penjelasan biasanya hanya memicu perdebatan baru.

    Situasi berubah menjadi saling menyalahkan dan mempertanyakan siapa yang terlalu sensitif.

    Akibatnya, inti masalah justru tidak terselesaikan.

    “Percakapan pun dengan cepat berubah menjadi ajang debat soal niat versus dampak, dan soal siapa yang ‘terlalu sensitif.’ Tapi akar masalahnya, yaitu bagaimana tindakan satu pihak melukai perasaan pihak lain, justru tidak pernah benar-benar dibahas,” kata Travers.

    Pendekatan yang lebih sehat adalah menyampaikan perasaan secara tenang dan lugas.

    Pasangan jadi memahami letak kesalahan dan mengetahui langkah yang perlu diperbaiki di masa mendatang.

    “Perbedaan dari kedua interaksi pertengkaran ini terletak pada tingkat kejelasannya. Cara pertama sangat kabur, terlalu umum, dan sekadar meluapkan emosi tanpa memberi pemahaman,” ujar Travers.

    Baca Juga :  Jangan Habis untuk Belanja! 7 Cara Mengubah THR Jadi Investasi Menurut Ria Andriany R.A

    “Sementara cara kedua lebih jelas, terarah, dan memberi tahu pasangan apa langkah nyata yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan,” sambungnya.

    2. Menghindari dendam yang dipendam terlalu lama

      Perbedaan pendapat soal hal sederhana, seperti rencana akhir pekan, juga bisa memicu konflik kecil.

      Satu pihak mungkin memilih mengalah, tetapi diam-diam menyimpan rasa kecewa.

      Sikap dingin atau sindiran berkepanjangan sebenarnya menandakan masalah belum selesai.

      Emosi negatif yang terus dipendam dapat berubah menjadi “bom waktu” yang meledak pada pertengkaran berikutnya.

      Mencari jalan tengah dan saling mendengarkan menjadi cara penting untuk menjaga hubungan tetap sehat.

      Pasangan akan merasa lebih dihargai karena kebutuhan dan keinginannya didengar dengan baik.

      3. Membantu memahami kebutuhan emosional pasangan

        Kesibukan kerja sering membuat seseorang merasa diabaikan oleh pasangan.

        Sayangnya, banyak orang memilih menyindir atau melontarkan kritik tajam dibanding mengungkapkan kebutuhan emosionalnya secara jujur.

        Baca Juga :  Perawatan Acne Chemical Peeling, Solusi Jerawat dan Komedo bagi Perempuan

        Padahal, menyampaikan rasa rindu dan kebutuhan akan waktu berkualitas bersama jauh lebih efektif dibanding menyerang karakter pasangan.

        Cara ini membuka ruang empati dan memperkuat kedekatan emosional.

        Travers menilai, konflik yang dikelola dengan baik justru dapat membantu pasangan memahami sisi terdalam satu sama lain.

        “Bila dikelola dengan baik, konflik justru menjadi cara terbaik untuk menyelami isi hati pasangan. Hal ini bisa menunjukkan apa yang sebenarnya berharga bagi mereka, hal-hal apa yang menyinggung perasaannya, serta tindakan apa yang bisa membuatnya merasa lebih aman,” ucap dia.

        “Di saat yang sama, hal ini juga mendorong introspeksi. Masing-masing pihak diajak untuk mengenali kembali kebiasaan, pemicu emosi, serta ekspektasi mereka sendiri,” lanjut Travers.

        Kebiasaan berdiskusi secara sehat membuat pasangan semakin memahami karakter masing-masing.

        Kedekatan emosional yang terbentuk dari proses itu menjadi fondasi penting untuk menjaga hubungan tetap harmonis dalam jangka panjang. (*)

        PENULIS : Alin Imani