PARAPUANG.com – Kebiasaan cek HP pagi hari kini menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas banyak orang, khususnya perempuan.

Baru membuka mata, tangan langsung mencari ponsel untuk memeriksa notifikasi, media sosial, atau pesan yang masuk.

Aktivitas ini terlihat sepele, tetapi para ahli menilai kebiasaan tersebut bisa menjadi tanda awal kecanduan digital.

Rutinitas memegang ponsel bahkan sebelum bangun dari tempat tidur menunjukkan adanya ketergantungan terhadap perangkat digital.

Kondisi ini sering tidak disadari karena sudah dianggap normal dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal, dampaknya dapat memengaruhi kesehatan mental hingga kualitas hidup secara keseluruhan.

Kebiasaan mengecek ponsel terus-menerus bukan satu-satunya ciri kecanduan digital.

Banyak orang mulai sulit fokus, mengabaikan interaksi langsung dengan sekitar, hingga merasa gelisah saat ponsel tidak berada di dekat mereka.

Baca Juga :  5 Tanda Burnout yang Sering Tak Disadari, Jangan Anggap hanya Lelah Biasa

Sebagian bahkan mengalami sensasi seolah ponsel bergetar, padahal tidak ada notifikasi masuk.

Fenomena lain yang cukup umum adalah membuka kembali aplikasi yang baru saja ditutup atau terus menggulir layar tanpa tujuan jelas.

Aktivitas tersebut sering menjadi pelarian dari rasa bosan, stres, atau emosi negatif lainnya.

Sebuah studi tahun 2022 menunjukkan rata-rata waktu menatap layar mencapai hampir tujuh jam per hari.

Sekitar dua jam di antaranya dihabiskan untuk media sosial.

Angka ini memperlihatkan betapa besar peran perangkat digital dalam kehidupan modern.

Penggunaan gawai secara berlebihan ternyata berdampak nyata bagi kesehatan.

Dari sisi psikologis, kondisi ini berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, depresi, hingga rasa kesepian.

Baca Juga :  Kenapa Kurma Jadi Makanan Favorit saat Iftar? Ini Khasiatnya bagi Perempuan Menurut Ahli

Sementara secara fisik, terlalu lama menatap layar dapat memicu mata tegang, gangguan postur tubuh, dan kualitas tidur yang menurun.

Kemampuan konsentrasi dan daya ingat juga ikut terpengaruh.

Akibatnya, produktivitas kerja maupun kemampuan belajar menjadi tidak optimal.

Banyak orang akhirnya merasa cepat lelah secara mental meski aktivitas fisiknya minim.

Ada alasan ilmiah di balik kebiasaan sulit lepas dari ponsel.

Setiap kali seseorang membuka HP untuk mengusir bosan atau mencari hiburan instan, otak melepaskan dopamin, zat kimia yang memicu rasa senang.

Respons tersebut membuat otak terbiasa mencari stimulasi cepat secara berulang.

Kondisi itu menyebabkan aktivitas yang membutuhkan fokus lebih lama, seperti membaca buku atau belajar, terasa membosankan.

Baca Juga :  Melisa Novianti, Perempuan Cantik Asal Indonesia Pamer Mobil Terbang Seharga Rp 4 Miliar di China

Otak cenderung memilih hiburan singkat yang memberikan kepuasan instan dibanding aktivitas yang membutuhkan proses.

Meski begitu, para ahli menyebut otak manusia memiliki kemampuan beradaptasi atau neuroplastisitas.

Kebiasaan digital yang berlebihan masih bisa dikurangi secara perlahan lewat digital detox atau membatasi penggunaan layar.

Langkah sederhana dapat dimulai dari memasang batas waktu aplikasi, mencoba hobi tanpa ponsel seperti olahraga atau melukis, hingga melatih mindfulness agar lebih sadar terhadap pola penggunaan gadget sehari-hari.

Bagi sebagian orang yang merasa sulit mengontrol penggunaan teknologi, terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) bersama profesional juga dinilai efektif membantu mengubah pola pikir dan perilaku terkait kecanduan digital. (*)

PENULIS : Risanti