PARAPUANG.com, Makassar – Perjuangan melawan kanker bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi juga tentang menjaga harapan, mimpi, dan cinta keluarga.

Itulah pesan kuat yang disampaikan Prof. Dr. Nurlina Subair, M.Si melalui kisah hidupnya bertajuk “Bangkit Dua Kali: Kisah Ibu Melawan Kanker Payudara”,

Materi ini dipaparkan pada Seminar Hari Ibu yang digelar Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Koordinator Sulawesi Selatan.

Seminar bertema “Peranan Wanita dan Masalah Kanker dalam kehidupan Rumah Tangga” berlangsung pada Sabtu, 20 Desember 2025 di Gedung Prodia Makassar lantai 5, Jalan Jenderal Sudirman No. 74–76.

Dalam paparannya, pendiri Makassar Cancer Care Community (MCCC) menceritakan awal perjalanan hidupnya sebagai seorang ibu dengan tiga anak kecil yang tengah menempuh studi doktoral (S3).

Baca Juga :  Ida Farida Noer Kupas Keragaman Kepribadian di Workshop DPD PIM Sulsel

Di tengah kesibukan mengurus keluarga, menjalani peran domestik, dan menyelesaikan kewajiban akademik, ia dikejutkan oleh diagnosis kanker payudara stadium awal.

“Vonis kanker datang saat saya sedang berjuang meraih masa depan yang lebih baik untuk keluarga,” ungkapnya.

Namun, alih-alih menyerah, perempuan kelahiran 15 Desember 1961 itu memilih berdiri dan melawan.

Perjuangan yang dijalaninya tidak mudah,operasi dan kemoterapi harus dijalani bersamaan dengan kesibukan mengerjakan riset, tugas akademik, serta tanggung jawab sebagai ibu dan istri.

Dukungan keluarga, terutama suami dan anak-anak, menjadi pilar utama yang memberinya kekuatan mental.

“Kanker bukan akhir, tapi awal perjuangan baru. Setiap rasa sakit, justru menjadi pengingat bahwa hidup layak diperjuangkan,” ujarnya.

Keteguhan mental dan pendidikan menjadi kunci bertahan hidup.

Baca Juga :  Aliyah Mustika Ilham Hadiri Bazaar Nusantara Diaspora di IKN, Ingin Makassar Jadi Tuan Rumah Kongres

Ia tidak hanya berhasil melewati fase pengobatan, tetapi juga terus melanjutkan perjalanan akademiknya hingga tuntas.

Prof. Dr. Nurlina Subair, M.Si (baju pink) bersama pemateri lainnya dan pengurus YKI Cabang Koordinator Sulsel dalam seminar Hari Ibu bertajuk “Peranan Wanita dan Masalah Kanker dalam kehidupan Rumah Tangga”

Bangkit Kedua Kali: Kanker Kambuh Setelah 10 Tahun

Sepuluh tahun berselang, cobaan kembali datang, kanker yang pernah dikalahkannya kembali kambuh.

Kali ini, perawatan yang dijalani lebih intensif, namun semangatnya tetap tak tergoyahkan.

Pengalaman tersebut justru memperkuat tekadnya untuk berbagi dan menguatkan sesama.

Guru besar Sosiologi di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar semakin aktif membangun jejaring sebagai ruang berbagi, saling menguatkan, dan memberi inspirasi bagi para pejuang kanker lainnya.

Di akhir paparannya, perempuan yang akrab disapa Prof. Nonong itu menegaskan pentingnya deteksi dini kanker, dukungan keluarga, serta kekuatan komunitas.

Baca Juga :  Waketum Irma Trisnawati Anwar Berbagi Takjil Depan Sekretariat HIPMI Sulsel, Wujud Kepedulian Sosial Pengusaha Muda

Menurutnya, tidak ada perjuangan yang harus dijalani sendirian.

“Kita bisa bangkit, dua kali atau lebih, selama ada semangat dan dukungan,” ujarnya.

Kisah Prof. Dr. Nurlina Subair menjadi pengingat bahwa cinta keluarga, pendidikan, dan harapan adalah kekuatan yang mampu menembus badai paling gelap sekalipun, serta menjadi inspirasi nyata bagi perempuan dan pejuang kanker di seluruh Indonesia.

Seminar ini diikuti sekitar 100 peserta dari perwakilan berbagai organisasi perempuan di Sulawesi Selatan

Sejumlah pakar turut hadir sebagai pemateri, antara lain Dr. dr. Nadirah Rasyid Ridha, Sp.A(K), Subsp.HO, M.Kes, dr. Salman Ardi Syamsu, Sp.B(K) Onk, dr. Rahadi Arie Hartoko, Sp.KFR, AIFO-K, serta Andi Heriadi Palloge, M.Biomed dari Prodia. (*)

Penulis : Nurwahida