PARAPUANG.com – Allegra Jade Dreanda Isdar menjadi sorotan setelah tampil sebagai student speaker pada convocation ceremony Harvard Graduate School of Education (HGSE), Massachusetts, Amerika Serikat, Rabu, 27 Mei 2026 sore.
Momen istimewa itu bertepatan dengan perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.
Perempuan asal Makassar, Sulawesi Selatan, tersebut sukses mencuri perhatian lewat pidato inspiratif tentang persoalan pendidikan di pedalaman Papua.
Di usia 20 tahun, Allegra tampil percaya diri di hadapan wisudawan Harvard sambil mengenakan kebaya baby pink.
Allegra menyelesaikan program Magister Pendidikan atau Master of Education (MEd) di Harvard hanya dalam waktu 12 bulan, sejak Juni 2025 hingga Mei 2026.
Sebelumnya, ia menempuh pendidikan S1 Psikologi di University of Michigan College of Literature, Science, and the Arts, Amerika Serikat.
Meski bidang studi S1 dan S2 yang ditempuhnya tidak sepenuhnya linier, Allegra berhasil diterima di Harvard karena memiliki visi kuat terhadap perubahan pendidikan di Indonesia, khususnya di Papua.
Pidato Allegra berangkat dari pengalamannya saat mengikuti proyek pendidikan bersama UNICEF di Papua.
Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya tentang akar persoalan pendidikan di wilayah terpencil.
“Dalam statement of purpose yang saya tulis saat mendaftar, saya menyampaikan cita-cita untuk ikut mengubah realitas pendidikan bagi para pelajar di Indonesia. Saya yakin, banyak dari kita di ruangan ini memiliki semangat yang sama. Karena itu, saya mengambil mata kuliah bersama Fernando M. Reimers, di mana kami bekerja sebagai analis kebijakan dan konsultan riset untuk membantu menyelesaikan persoalan nyata,” tutur Allegra.
Fernando M. Reimers dikenal sebagai Direktur Global Education Innovation Initiative Harvard University sekaligus praktisi pendidikan internasional.
Pada proyek tersebut, Allegra diminta mencari solusi atas tingginya angka ketidakhadiran guru di sekolah-sekolah pedalaman Papua.
Awalnya, ia mengira teknologi dapat menjadi jawaban paling efektif.
Sistem absensi digital, unggahan foto kehadiran, hingga pemberian insentif bagi guru sempat dianggap sebagai solusi modern yang tepat sasaran.
Namun, pandangannya berubah usai mendapat pertanyaan sederhana dari Reimers.
“Allegra, apakah kamu pernah berpikir untuk memberi para guru sebuah sepeda?”
Pertanyaan itu menjadi titik balik bagi Allegra.
Ia menyadari persoalan sebenarnya bukan semata guru malas mengajar, melainkan keterbatasan akses transportasi dan medan geografis yang sulit dijangkau.
“Para guru bukan menolak datang ke sekolah. Mereka memang tidak mampu menjangkaunya,” ujar Allegra.
Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa banyak persoalan sosial sering kali keliru dipahami jika hanya dilihat dari data dan teori.
Realitas di lapangan membutuhkan empati serta kemampuan mendengar kebutuhan masyarakat secara langsung.
“Pahami terlebih dahulu bagaimana sebuah masalah dirasakan oleh orang lain sebelum memutuskan apa sebenarnya masalah itu,” kata Allegra di hadapan wisudawan Harvard lainnya.
Senior Associate Dean for Academic Programs and Student Services HGSE, Marisa Hernandez, mengungkapkan Allegra terpilih sebagai student speaker setelah melewati proses seleksi ketat yang melibatkan dosen, staf, dan mahasiswa.
“Allegra dipilih oleh komite seleksi yang terdiri dari dosen, staf, dan mahasiswa sebagai salah satu student speaker tahun ini,” ujar Hernandez.
Saat memperkenalkan Allegra, Hernandez juga menyoroti kiprahnya di bidang pendidikan, kesehatan mental anak, hingga stigma sosial di Asia Tenggara.
Lulusan Mentari Intercultural School Jakarta itu diketahui aktif melakukan berbagai penelitian terkait pendidikan anak dan kesehatan mental.
Allegra juga pernah bekerja sebagai terapis anak bagi penyandang gangguan spektrum autisme serta mengajar di berbagai ruang kelas di Indonesia dan Asia Tenggara.
“Suatu hari nanti, Allegra berharap dapat membangun sekolah di kawasan pesisir Jakarta,” kata Hernandez.
Tak hanya berprestasi di bidang akademik, Allegra juga dikenal aktif di dunia seni pertunjukan.
Usai lulus dari Harvard, ia dijadwalkan mengikuti tur dunia bersama grup jazz acapella Harvard, Din & Tonics, yang akan tampil di sejumlah kota di Eropa dan Asia.
Setelah tur tersebut selesai, Allegra berencana kembali ke Indonesia untuk memulai inisiatif pendidikan skala kecil di Jakarta sekaligus mengembangkan karier di bidang pendidikan dan konsultasi kesehatan.
Allegra merupakan cucu mantan legislator, Tenri Olle Yasin Limpo. Ayahnya, Isdar Andre Marwan, merupakan putra pasangan Tenri Olle dan KH Marwan Aidit, mantan Ketua MUI Sulawesi Tenggara. (*)
PENULIS : Nurwahida
