PARAPUANG.com – Panitia Baine Run Bulukumba resmi mengumumkan penundaan pelaksanaan event lari khusus perempuan tersebut.

Ajang yang semula dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 21 Desember 2025.

Kemudian diundur ke bulan Februari 2026 dan menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Bulukumba ke-66.

Kini pelaksanaannya ditetapkan akan digelar pada Minggu, 19 April 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini.

Ketua Panitia Baine Run II, Andi Herfida Muchtar, menyampaikan penjelasan tersebut melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya @fidha.attas, bahwa keputusan ini diambil setelah panitia mempertimbangkan kondisi cuaca ekstrem.

“Saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, terkait dengan pelaksanaan Baine Run II karena berbagai kendala, paling utamanya faktor cuaca yang sangat tidak mendukung,” ujarnya.

Baca Juga :  Warga Soroti Perparkiran, Bansos hingga Insentif Guru Mengaji saat Reses Hj Umiyati di Panaikang

Ia menambahkan bahwa kondisi cuaca yang masih belum bersahabat membuat panitia kembali menyesuaikan jadwal demi keamanan dan kenyamanan peserta.

“Di bulan Februari kami melihat kondisi cuaca juga belum bersahabat, sehingga kami tunda dan mencari momen yang tepat untuk perempuan yakni perayaan Hari Kartini pada April mendatang,” tuturnya.

Panitia menargetkan 2.000 perempuan ikut ambil bagian dalam ajang ini. Setiap peserta dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp200.000 dan akan mendapatkan fasilitas berupa jersey, medali, serta soft flask.

Tahun ini, lomba difokuskan pada kategori 5K sebagai upaya menjaga sportivitas dan kenyamanan peserta.

Panitia juga telah menyiapkan hadiah uang tunai bagi tiga pemenang utama, menambah daya tarik event yang mengusung semangat kesehatan, kebersamaan, dan pemberdayaan perempuan tersebut.

Baca Juga :  Jalan Kaki vs Lari, Mana Olahraga Terbaik untuk Perempuan Sibuk?

Baine Run II diharapkan menjadi ruang aman bagi perempuan Bulukumba, Sulawesi Selatan bahkan Indonesia untuk merayakan semangat Kartini melalui olahraga, sekaligus memperkuat solidaritas perempuan lintas usia dan latar belakang. (*)

Penulis : Dwi Ayu Artantiati Putri