PARAPUANG.com, Bantaeng – Pengurus Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Bantaeng periode 2026–2031 yang diketuai dr. Hj. Isnawaty Nur resmi dilantik oleh Ketua YKI Sulawesi Selatan, Dr. dr. Nani Iriany Djufri, Sp.THT-KL (K)
Pelantikan 36 pengurus YKI Cabang Bantaeng berlangsung di Ruang Pola Kantor Bupati Bantaeng, Jumat, 15 Mei 2026.
Agenda tersebut turut dirangkaikan dengan sosialisasi kesehatan tentang kanker kolon atau kanker usus besar yang menghadirkan pakar bedah digestif, Prof. Dr.dr.Warsinggih, SpB.Subsp.BD(K), M.Kes
Kegiatan itu menjadi momentum penguatan kolaborasi antara organisasi sosial dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya kanker.
Edukasi difokuskan pada pentingnya deteksi dini kanker kolon yang kini mendominasi kasus kanker di Sulawesi Selatan, terutama pada laki-laki.
“Kanker kolon bukan lagi ancaman jauh, di Sulawesi Selatan, trennya sangat tinggi. Hal ini berkaitan erat dengan gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat kita yang tinggi lemak namun rendah serat,” ujar Prof. Warsinggih.
Ia menjelaskan, perubahan gaya hidup masyarakat menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kasus kanker kolon.
Konsumsi daging merah berlebihan, minim sayur dan buah, kebiasaan merokok, obesitas, hingga kurang aktivitas fisik menjadi faktor risiko yang paling sering ditemukan.
Kondisi itu semakin memprihatinkan karena pasien usia muda mulai banyak ditemukan di Makassar dan sejumlah daerah sekitarnya.
Jika sebelumnya kanker kolon identik dengan usia di atas 50 tahun, kini pasien berusia di bawah 40 tahun mulai meningkat.

Prof. Warsinggih juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala awal kanker kolon.
Perubahan pola buang air besar, munculnya darah pada tinja, nyeri perut berulang, hingga penurunan berat badan drastis tanpa sebab jelas perlu segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan.
“Deteksi dini menjadi kunci utama, jangan menunggu gejala berat baru datang ke rumah sakit,” tegasnya.
Penanganan kanker kolon sangat bergantung pada stadium penyakit saat ditemukan.
Stadium awal memiliki peluang sembuh lebih tinggi melalui tindakan operasi pengangkatan tumor atau polip.
Sementara stadium lanjut membutuhkan kombinasi terapi seperti kemoterapi, radioterapi, hingga operasi lanjutan.
Skrining dini penting seperti kolonoskopi sebelum ada gejalah, langkah tersebut dinilai efektif menekan angka kematian akibat kanker kolon yang terus meningkat di Sulawesi Selatan.
Sementara itu, Prof. Dr. dr. Rina Masadah, M.Phil., Sp.PA(K), sebagai pemateri kedua turut mengungkap tingginya jumlah pemeriksaan jaringan kanker di laboratorium patologi.
“Saat ini dalam sehari, pemeriksaan jaringan tumor yang dikirim dokter bedah untuk memastikan ganas atau jinaknya kanker bisa mencapai 30 hingga 50 sampel,” sebutnya.

Harapan besar kini disematkan kepada pengurus baru YKI Bantaeng agar aktif menjadi garda terdepan edukasi kesehatan masyarakat.
Upaya pencegahan dinilai jauh lebih penting dibanding penanganan ketika kanker sudah memasuki stadium lanjut. (*)
PENULIS : Nurlina Subair
