PARAPUANG.com, Makassar – Ketua Tim Penggerak PKK Kota Makassar, Melinda Aksa, meresmikan Bank Sampah Unit (BSU) Lontara TP PKK Kota Makassar bersama Bank Sampah Unit TP PKK Kecamatan se-Kota Makassar.
Langkah ini dilakukan untuk mendorong terbentuknya budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan mulai dari tingkat rumah tangga.
Peluncuran yang berlangsung di halaman Gedung TP PKK Kota Makassar, Jalan Balaikota Nomor 17, pada Jumat, 12 Juni 2026.
Kegiatan ini menjadi wujud komitmen bersama antara Pemerintah Kota Makassar, kader PKK, dan masyarakat untuk mengurangi sampah dari sumbernya sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Prosesi launching ditandai dengan penyerahan bantuan Bank Sampah secara simbolis dari Ketua TP PKK Kota Makassar kepada Ketua TP PKK Kecamatan se-Kota Makassar.
Kesempatan itu juga dirangkaikan dengan penyerahan Surat Keputusan (SK) kepada pengurus BSU Lontara TP PKK Kota Makassar.
Ketua TP PKK Kota Makassar, Melinda Aksa mengaku optimistis melihat semakin banyak wilayah yang aktif menjalankan program bank sampah dan penimbangan sampah secara rutin.
“Saya sangat senang melihat antusiasme para ibu camat yang sudah rutin melakukan penimbangan sampah. Walaupun ada beberapa wilayah yang sampahnya belum banyak sehingga belum bisa melakukan penimbangan setiap minggu, yang terpenting adalah ada pergerakan dan konsistensi,” ujarnya.
Menurutnya, pengelolaan sampah tidak boleh berhenti pada tahap pengumpulan.
Kebiasaan memilah dan mengelola sampah harus tumbuh menjadi budaya yang mengakar dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Karena itu, ia mendorong pembentukan Bank Sampah Unit tidak hanya di tingkat kecamatan, tetapi juga di seluruh perangkat daerah dan unit pemerintahan Kota Makassar.
Langkah tersebut dinilai penting agar pemerintah dapat menjadi teladan dalam pengelolaan sampah yang baik.
“Saya berharap setiap dinas dan unit pemerintahan memiliki bank sampahnya sendiri. Pemerintah harus menjadi contoh terlebih dahulu agar masyarakat semakin percaya dan ikut bergerak,” katanya.
Melinda menilai pemahaman masyarakat, termasuk di lingkungan pemerintahan, mengenai sistem pengelolaan sampah masih perlu ditingkatkan.
Padahal, sampah yang dipilah dengan baik memiliki nilai ekonomis dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sistem BSU yang diterapkan nantinya akan terhubung dengan Bank Sampah Pusat.
Sampah yang telah ditimbang dapat dijemput armada khusus atau diantar langsung untuk diproses sehingga memiliki nilai jual.
“Jangan melihat sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang. Jika dikelola dengan benar, sampah bisa menjadi sumber manfaat sekaligus membantu mengurangi beban lingkungan,” jelasnya.
Perhatian terhadap edukasi masyarakat juga menjadi fokus utama.
Melinda menilai masih banyak warga yang belum memahami perbedaan sampah organik, anorganik, residu, hingga limbah B3.
Ia meminta seluruh kader dan pengurus PKK di tingkat kecamatan terus melakukan sosialisasi serta berbagi praktik baik terkait pengelolaan sampah kepada masyarakat.
“Kita harus terus mengedukasi. Semakin banyak warga yang memahami cara memilah sampah dengan benar, semakin besar dampak positif yang bisa kita rasakan bersama,” tuturnya.
Pengalaman saat mengunjungi salah satu kawasan di Jakarta Timur turut dibagikan Melinda dalam kesempatan tersebut.
Kawasan itu berhasil menerapkan pemilahan sampah hingga tujuh jenis selama bertahun-tahun berkat keteladanan pemimpinnya yang lebih dahulu menerapkan pengelolaan sampah di rumah.
“Itu menjadi pelajaran berharga bagi kita. Perubahan selalu dimulai dari diri sendiri. Kalau kita ingin masyarakat bergerak, maka kita harus memberi contoh terlebih dahulu,” ungkapnya.
Apresiasi juga diberikan kepada kader dan pengurus PKK Kota Makassar yang telah memulai pengelolaan sampah mandiri di rumah melalui pembuatan biopori dan Teba untuk mengolah sampah organik menjadi lebih bermanfaat.
Selain itu, Melinda menekankan pentingnya publikasi kegiatan lingkungan melalui media sosial.
Menurutnya, banyak program positif yang belum dikenal luas karena kurangnya dokumentasi dan promosi.
“Saya berharap seluruh kegiatan bank sampah di kecamatan dapat terus ditampilkan melalui media sosial. Dengan begitu, semakin banyak masyarakat yang terinspirasi dan semakin banyak pihak yang ingin berkolaborasi,” katanya.
Peluncuran Bank Sampah Unit ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antara TP PKK, pemerintah kecamatan, Dharma Wanita Persatuan, serta seluruh elemen masyarakat dalam mewujudkan Makassar yang bersih, produktif, dan berkelanjutan.
“Gerakan ini bukan hanya tentang sampah. Ini tentang membangun kebiasaan baik, menumbuhkan kepedulian, dan menciptakan masa depan lingkungan yang lebih baik untuk generasi mendatang,” tutupnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kota Makassar Hj. Fatma Wahyuddin, para camat se-Kota Makassar beserta Ketua TP PKK Kecamatan, pengurus Dharma Wanita Persatuan Kota Makassar, jajaran pengurus TP PKK Kota Makassar, serta kader PKK dari berbagai kecamatan. (*)
PENULIS : Ayu Fitriana
