PARAPUANG.com, Makassar – Bank Sampah Taman Indah 23 kini menjadi solusi cerdas pengelolaan sampah berbasis warga yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi.
Sejak awal Februari 2026, program ini semakin berkembang setelah adanya penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara pengelola Bank Sampah Unit (BSU) Taman Indah 23 dan Bank Sampah Pusat .
Langkah ini menjadi titik awal penguatan sistem pengelolaan sampah di wilayah Kelurahan Tamalanrea Indah, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar.
Direktur BSU Taman Indah 23, Andi Nurhayati Ishak, menjelaskan bahwa rutinitas ini menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan warga untuk lebih disiplin dalam memilah sampah sejak dari rumah.
“Penimbangan sampah kini dilakukan secara rutin sebanyak dua kali dalam sepekan, yakni setiap Kamis dan Ahad,” sebutnya.
Menurutnya, sejak BSU Taman Indah 23 ini aktif, pengelolaan sampah di kawasan ini mulai dibagi secara sistematis.
“Sampah organik tidak lagi dibuang sembarangan, melainkan dijemput oleh satuan tugas kebersihan, setelah itu, sampah tersebut dibawa ke BSU untuk diolah menjadi maggot, yang memiliki nilai guna tinggi sebagai pakan ternak,” jelasnya.
Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik dan kertas umumnya dibawa langsung oleh warga ke lokasi BSU, meski dalam beberapa kasus juga tersedia layanan penjemputan untuk memudahkan warga.
Menariknya, sistem pengelolaan sampah di BSU Taman Indah 23 menggunakan konsep tabungan.
Setiap sampah yang disetorkan akan dikonversi menjadi nilai rupiah yang tercatat dalam rekening milik warga.
“Hasil tabungan ini dapat dicairkan sewaktu-waktu atau digunakan sebagai pengganti pembayaran iuran sampah bulanan,” tutur Andi Nurhayati Ishak.
Skema ini dinilai efektif dalam meningkatkan partisipasi warga sekaligus memberikan manfaat ekonomi langsung.
Perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Lingkungan Hidup DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sulsel menambahkan bahwa selain fokus pada pengelolaan sampah, kawasan ini juga mengembangkan program penghijauan.
“Ke depannnya, kami berencana memanfaatkan lahan di area BSU untuk ditanamin berbagai jenis sayuran seperti kangkung, selada, tomat, dan cabai. Aktivitas ini tidak hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi warga tentang pentingnya ketahanan pangan berbasis rumah tangga,” bebernya.
Ketua Bidang Lingkungan Hidup DPD PIM Sulawesi Selatan itu mengungkapkan bahwa kesadaran masyarakat terkait pengelolaan sampah mulai tumbuh.
Edukasi terus dilakukan secara aktif, termasuk membagikan informasi melalui grup WhatsApp warga serta mengajak masyarakat untuk memilah sampah dari sumbernya.
“Dari total sekitar 34 rumah di wilayah RT 3 RW 3, sebagian besar warga kini telah mulai berpartisipasi dalam program ini,” ucapnya.
Dukungan pemerintah juga turut memperkuat keberlanjutan program.

Bantuan berupa karung dan drum untuk pengumpulan dan penampungan sampah plastik, serta edukasi dari dewan lingkungan menjadi faktor pendukung yang signifikan.
“Dalam pengelolaannya, hasil dari bank sampah dibagi dengan skema 70 persen untuk warga dan 30 persen untuk operasional BSU,” sebut Andi Nurhayati Ishak.
Saat ini terdapat dua orang mustahik yang diberdayakan sebagai pemilah sampah di BSU Taman Indah 23.
Ke depan, akan ada tambahan tiga orang satuan tugas yang bertugas menjemput sampah langsung dari rumah warga.
Langkah ini diharapkan mampu membuka peluang kerja sekaligus meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah di tingkat lingkungan.
Perkembangan Bank Sampah Taman Indah 23 menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang terstruktur dan berbasis komunitas mampu menjadi solusi nyata bagi permasalahan lingkungan.
Lebih dari sekadar menjaga kebersihan, program ini juga membangun kesadaran kolektif, memperkuat ekonomi warga, serta menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan produktif. (*)
PENULIS : Nurwahida
