PARAPUANG.com, Luwu – Tudang Ade’ kembali digelar sebagai ruang musyawarah adat penting dalam rangka peringatan Hari Jadi Luwu (HJL) ke-758 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) ke-80 Tahun 2026.

Momentum budaya ini berlangsung khidmat dihadiri langsung Wali Kota Palopo Hj Naili Trisal bersama Wakil Wali Kota Akhmad Syarifudin, Selasa, 20 Januari 2026, di SalassaE Istana Kedatuan Luwu.

Tudang Ade’ dimaknai bukan sekadar seremoni adat, tetapi forum strategis untuk menyatukan gagasan dan langkah bersama demi kesejahteraan masyarakat Tana Luwu di masa depan.

Nuansa kebersamaan terasa kuat sejak awal acara.

Hadir jajaran Dewan Adat 12 Kedatuan Luwu, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta perwakilan pemerintah daerah se-Tana Luwu.

Baca Juga :  Legislator Hj Umiyati Tinjau GPM di Panaikang, Diserbu Warga Jelang Ramadhan

Delegasi dari Kabupaten Kolaka Utara, Forum Silaturrahmi Keraton Nusantara (FSKN), serta Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) se-Indonesia turut memperkaya dialog kebudayaan.

Kehadiran Wali Kota Palopo turut didampingi Plh Sekretaris Daerah Kota Palopo, Ketua TP PKK Kota Palopo, serta sejumlah pimpinan perangkat daerah.

Kehadiran unsur pemerintah ini mencerminkan dukungan nyata terhadap pelestarian adat dan penguatan identitas budaya Luwu.

Agenda musyawarah membahas sejumlah isu penting, seperti penguatan nilai budaya melalui pelestarian tradisi Maddararing menjadi sorotan utama sebagai dasar pengambilan keputusan adat.

Sinergi antarwilayah juga diperkuat guna mempererat silaturahmi antara Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, Kota Palopo, serta wilayah tetangga seperti Kolaka Utara.

Baca Juga :  Fatmawati Rusdi Mendukung Penuh Pendirian Koperasi Merah Putih di Sulsel

Refleksi sejarah turut mengemuka sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Pahlawan Nasional Andi Jemma dan rakyat Luwu.

Peristiwa heroik 23 Januari 1946 kembali dikenang sebagai simbol keberanian mempertahankan kemerdekaan.

Puncak peringatan HJL ke-758 dan HPRL ke-80 dijadwalkan diisi prosesi Makkasawiang / Mabbalisumange serta Mappangolo Lise Rakki, yakni menghadapkan isi rakki ke hadapan Datu Luwu oleh perwakilan daerah.

Prosesi dilanjutkan Mappasisele Lise Rakki sebagai simbol pertukaran, kebersamaan, dan keharmonisan antara adat dan pemerintah.

Rangkaian kegiatan budaya juga mencakup Manre Saperra, tradisi makan bersama di atas bentangan kain panjang yang melambangkan kesetaraan dan pelepasan nazar.

Seluruh rangkaian akan ditutup pada Malam Puncak Peringatan HJL dan HPRL melalui Anugerah Budaya Luwu 2026 di halaman Istana Kedatuan Luwu. (*)

Baca Juga :  Melinda Aksa Munafri Pamerkan Baju Bodo Kontemporer Makassar Dihadapan Ibu Wapres

Penulis : Alin Imani