PARAPUANG.com – Nama Hasriwati A. Rasyid dikenal sebagai sosok perempuan yang konsisten memperjuangkan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat marginal di Sulawesi Selatan.

Lulusan Sarjana Ekonomi Manajemen Keuangan STIEM YPBUP yang kini dikenal sebagai STIEM Bongaya Makassar itu justru memilih jalan berbeda setelah menyelesaikan kuliahnya.

Alih-alih berkarier di perbankan atau perusahaan keuangan, ia memutuskan terjun ke dunia pendidikan dan pemberdayaan sosial.

Perempuan asal Kabupaten Bone, tersebut sejak lama memiliki kepedulian terhadap remaja putus sekolah dan tingginya angka pengangguran.

Kepedulian itu mendorongnya mendirikan Yayasan Pemberdayaan Ummat Qurratu A’Yun bersama rekan-rekannya pada 1997.

Langkah pengabdiannya terus berkembang. Tahun 2003, Hasriwati mendirikan Lembaga Pendidikan dan Ekonomi (LPE) Wall Ashrie dan dipercaya sebagai direktris eksekutif.

Lembaga itu fokus memberikan pelatihan life skill bagi pemuda dan perempuan putus sekolah, mulai dari pelatihan komputer, menjahit, tata boga, keaksaraan fungsional hingga membina beberapa PAUD.

Program-program yang dijalankan tidak hanya sebatas pelatihan.

Peserta juga mendapat kesempatan magang di kantor pemerintahan maupun tempat kerja tertentu sesuai bidang keterampilan yang dipelajari.

Dedikasinya di bidang pendidikan dan pengembangan pemuda mendapat perhatian pemerintah.

Tahun 2005, lembaganya memperoleh bantuan program PAUD dari Kementerian Pendidikan.

“Tahun 2011 kami juga pernah mendapatkan dukungan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk menyelenggarakan pelatihan kepemimpinan pemuda dan kepanduan,” ujarnya.

Perempuan yang akrab disapa Asrie atau Sera ini juga pernah dipercayakan menjabat Ketua Induk Koperasi Pemuda Indonesia yang khusus menangani distributor pupuk Indonesia di wilayah Sulawesi tahun 2005-2006.

Baca Juga :  Anastasya Tunggadewi, Remaja Makassar Masuk 100 Ketua OSIS Terbaik se-Indonesia

Semasa SMP dan SMA, ia aktif di Pramuka, PMR, dan OSIS.

Aktivitas organisasinya berlanjut saat kuliah melalui Senat Mahasiswa, pernah diamanahkan sebagai Ketua Dewan Racana Putri Pramuka STIEM dan Koordinator GEMA Kosgoro Komisariat STIEM.

Konsistensinya dalam mendampingi masyarakat marginal membuatnya mendapat penghargaan sebagai Pemuda Pelopor Pemerhati Masyarakat Marginal dan Terbelakang dari Gubernur Sulawesi Selatan pada 2005.

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas kepeduliannya terhadap kelompok masyarakat yang sering luput dari perhatian.

Selepas kuliah, dia tetap aktif berorganisasi dengan menjadi pengurus KNPI Sulsel, ICMI MUDA Sulsel, Wakili Sekretaris GEMA Kosgoro Sulsel, Wakil Sekretaris FUSKOM GBN Sulsel, Sekretaris III DPD IWAPI Sulsel hingga Sekretaris I DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sulsel.

Keterlibatannya bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan ruang untuk memperjuangkan pendidikan, kepemimpinan perempuan, dan pembangunan sumber daya manusia.

Pengalaman tersebut membentuk jaringan relasi yang luas sekaligus memperkuat kemampuan kepemimpinannya.

Kecintaannya terhadap pendidikan juga membawanya terlibat dalam pendirian sekolah Islam Al Azhar 34 di Makassar pada 2007, di bawah naungan Yayasan Insan Unggul..

Di yayasan tersebut, ia dipercaya menjabat sebagai Wakil Sekretaris Yayasan Insan Unggul Sekolah Islam Al-Azhar Makassar 2007-2010 sembari menjabat Kepala Tata Usaha KB-TK-SDI Al-Azhar 34 Makassar

Baca Juga :  Tina Talisa Ditunjuk Jadi Komisaris Pertamina Patra Niaga, Ini Perjalanan Karir dan Besaran Gajinya

“Tahun 2009-2011 saya ditempatkan dibeberapa posisi, mulai dari Kepala Bagian Kepegawaian hingga Kepala Humas dan Kesekretariatan Yayasan Insan Unggul Sekolah Islam Al-Azhar Makassar,” sebutnya.

Bahkan pada saat pendirian SMP Islam Al Azhar 24 Makassar, ia dipercayakan juga sebagai penanggung jawab Kepala Sekolah Sementara bersama rekan sejawadnya Durothun Muawanah atau biasa dipanggil Miss Indun.

“Seiring berjalannya sekolah Islam Al Azhar Makassar, saya bersama Miss Indun juga mendirikan Homeschooling Griya Belajar Matahari di Jl. Hertasning Baru Aroepala, namun hanya bisa bertahan 2 tahun saja,” kisahnya.

Pengabdian Hasriwati di dunia pendidikan tidak hanya berlangsung di Makassar.

Tahun 2012, ia dipercaya menjabat Sekretaris Yayasan Winarni Rahmat Ririn yang kemudian mendirikan Sekolah Islam Al-Azhar 43 Gorontalo.

Kepercayaan itu berlanjut saat dirinya mengemban amanah sebagai Kepala Kepegawaian dan Humas Sekolah Islam Al-Azhar 43 Gorontalo pada periode 2012 hingga 2014.

Pengalaman tersebut semakin memperkuat kapasitasnya dalam pengelolaan lembaga pendidikan sekaligus pengembangan sumber daya manusia.

Pendirian Sekolah Islam Al Azhar 34 Makassar dan Al Azhar 43 Gorontalo dilakukan di bawah bimbingan Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar yang berlokasi di Jalan Sisingamangaraja, Kompleks Masjid Agung, Jakarta Selatan.

Pendampingan tersebut menjadi fondasi penting dalam menghadirkan lembaga pendidikan Islam berkualitas di kawasan Indonesia Timur.

Dedikasinya di bidang pendidikan kembali mendapat pengakuan pada 2016 hingga 2018, ketika ia dipercaya menjadi konsultan pendirian Sekolah Islam Al-Azhar di Kendari dan Palu.

Baca Juga :  Казино Вавада играйте и выигрывайте большие призы

Keterlibatan dan pengalamannya di berbagai daerah itu semakin menguatkan cita-citanya untuk mendirikan sekolah sendiri di masa depan.

“Saya bercita-cita ingin mendirikan sekolah, saya sudah punya konsepnya, semoga segera terwujud” ungkapnya.

Selain aktif di dunia pendidikan, Hasriwati juga pernah terjun ke dunia politik melalui Partai Golkar sejak 1999 lewat organisasi pendiri partai, Kosgoro.

Ia bahkan sempat menjadi calon legislatif pada Pemilu 2014 untuk Daerah Pemilihan VII Kabupaten Bone.

Bagi Hasriwati Rasyid, keberhasilan tidak cukup diukur dari jabatan atau penghargaan.

“Saya berprinsip bahwa ilmu dan pengalaman harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar,” jelasnya.

Prinsip itu terlihat dari konsistensinya membangun ruang pendidikan dan mendampingi banyak organisasi sosial.

Aktivitasnya di dunia perempuan dan pendidikan memperlihatkan keyakinannya bahwa perempuan memiliki peran besar dalam membentuk kualitas generasi masa depan.

Hasriwati juga tidak memilih jalan populer untuk dikenal publik.

Ia justru mengambil peran sebagai penggerak di balik layar, memastikan banyak program pendidikan dan pemberdayaan dapat berjalan dan memberi dampak jangka panjang.

Di tengah berbagai aktivitasnya, traveling dan menulis menjadi cara Hasriwati menjaga semangat sekaligus memperluas wawasan.

Sosoknya menjadi contoh bagaimana pendidikan, organisasi, dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan untuk menciptakan dampak nyata bagi masyarakat. (*)

PENULIS : Nurwahida