PARAPUANG.com, Makassar – Nama Ichsania Hasan, S. Th I, S.PdI menjadi salah satu sosok inspiratif di dunia pendidikan madrasah Kota Makassar.

Perempuan yang akrab disapa Miss Nia atau Iis ini membuktikan bahwa pendidikan bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hidup untuk menghadirkan harapan bagi anak-anak yang kurang beruntung.

Lahir di Ujung Pandang pada 6 Mei 1985, Ichsania Hasan tumbuh dalam keluarga sederhana sebagai anak keenam dari delapan bersaudara.

Lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi nilai pendidikan membentuk karakter tangguh dan kepeduliannya terhadap sesama sejak usia dini.

Sosok yang paling berpengaruh dalam perjalanan hidupnya adalah sang ibu.

Figur tersebut menjadi inspirasi utama yang menumbuhkan kecintaannya pada dunia pendidikan.

Keinginan untuk mengikuti jejak ibunya sebagai pendidik akhirnya mengantarkan Ichsania memilih jalan pengabdian sebagai guru.

Ketertarikannya pada dunia pendidikan mulai terlihat sejak lulus SMA di MAN 2 Makassar.

Saat banyak rekan seusianya memilih jalur karier lain, Ichsania justru memulai langkah sebagai pengajar.

Proses tersebut dijalaninya dengan penuh kesabaran dan ketulusan hingga menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Perjalanan akademiknya juga menunjukkan komitmen tinggi terhadap profesi guru.

Ia meraih gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I) dari Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar pada tahun 2006.

Baca Juga :  Sheila Marcia Mulai Hapus Tato, Ungkap Proses Panjang dan Alasan Spiritual

Karena ingin memiliki kompetensi pendidikan yang lebih lengkap, ia kembali menempuh pendidikan strata satu dan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) dari STAI DDI Makassar pada tahun 2010.

Saat ini, Ichsania tengah melanjutkan studi Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Islam Makassar.

Kariernya di dunia pendidikan dimulai dari mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Darul Istiqamah Makassar Jl. Mamoa Raya.

Pengalaman tersebut membuka jalan baginya untuk terus berkembang hingga dipercaya mengajar di TK Sekolah Islam Al-Azhar pada periode 2008 hingga 2011.

Tahun 2008 menjadi titik penting dalam hidup perempuan yang hobi menulis puisi ini.

Pada masa itu, Ichsania mulai mewujudkan mimpi besar yang telah lama disimpan, yakni mendirikan sekolah sendiri.

Bersama keluarga, ia membangun lembaga pendidikan bernama Raudhatul Athfal (RA) dan Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Nurul Hasanah yang memperoleh izin operasional pada tahun 2010.

Nama “Nurul Khasanah” memiliki makna mendalam. Kata “Nurul” berarti cahaya, sementara “Hasanah” berarti kebaikan yang diambil dari nama ayahnya ‘Hasan’.

“Harapannya, sekolah tersebut dapat menjadi cahaya kebaikan yang menerangi masa depan masyarakat sekitar,” ujarnya.

Keputusan paling berani yang diambilnya adalah menggratiskan biaya pendidikan bagi para siswa.

Langkah itu dilatarbelakangi kondisi lingkungan tempat tinggalnya yang masih banyak dihuni keluarga kurang mampu serta anak-anak yang putus sekolah.

Baca Juga :  Fakta Menarik Vina Anggi Sitorus, Ratu Baru Miss Grand Indonesia 2025

“Saya melihat banyak anak putus sekolah dan masyarakat kurang mampu. Karena itu saya terpanggil untuk memajukan pendidikan di sini,” ungkapnya.

Ichsania Hasan, S. Th I, S.PdI (jilbab biru) saat membersamai murid-muridnya belajar

Sekolah yang awalnya berdiri dengan fasilitas sederhana perlahan berkembang.

Kepercayaan masyarakat terus meningkat hingga jumlah peserta didik bertambah dari tahun ke tahun.

Tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan fasilitas dan pendanaan, Ichsania juga berhadapan langsung dengan berbagai persoalan sosial.

Banyak orang tua murid yang belum bisa membaca sehingga ia turut membantu mengajarkan literasi dasar.

Ada pula siswa dari keluarga broken home hingga anak-anak yang sempat kehilangan semangat belajar.

Kesabaran dan pendekatan personal menjadi kunci keberhasilannya.

Tidak sedikit siswa yang awalnya belum mampu membaca akhirnya berhasil menguasai kemampuan dasar tersebut.

Beberapa anak yang dikenal sulit diatur pun perlahan mengalami perubahan perilaku yang positif.

Di tengah kesibukannya memimpin sekolah, Ichsania tetap aktif dalam berbagai organisasi.

Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum PMII, aktif di Fatayat NU, serta dipercaya menjadi Wakil Ketua Kelompok Kerja Kepala Madrasah Kota Makassar.

Prinsip hidup yang selalu dipegangnya adalah “slowly but sure”, filosofi tersebut mengajarkannya untuk tidak terburu-buru mengejar sesuatu.

Baca Juga :  Masyita Crystallin dan Tugas Besar Mengawal Stabilitas Keuangan Indonesia

“Bagi saya, setiap pencapaian akan datang pada waktunya jika dijalani dengan kesungguhan dan konsistensi,” ucapnya.

Berbagai inovasi juga terus diterapkan di sekolah yang dipimpinnya, salah satu program unggulan adalah pembiasaan membaca 7 (tujuh) doa sebelum memasuki ruangan serta pelaksanaan Salat Dhuha secara rutin.

Keunikan lainnya, setiap siswa wajib mengucapkan satu kata dalam Bahasa Makassar sebelum masuk kelas sebagai bentuk pelestarian budaya daerah.

Momen paling berkesan dalam kariernya selalu hadir saat perpisahan sekolah.

Kebersamaan yang terjalin selama bertahun-tahun bersama para siswa menjadikan setiap perpisahan sebagai pengalaman emosional yang sulit dilupakan.

Selain aktif di dunia pendidikan, Ichsania juga dikenal memiliki bakat dalam bidang sastra.

Ia gemar menulis puisi dan kerap mengikuti lomba baca puisi dan sering memenangkan lomba. .

Menurut Ichsania, guru masa kini harus mampu menguasai teknologi sekaligus memahami karakter peserta didik yang terus berkembang.

Adaptasi menjadi kemampuan penting agar pendidikan tetap relevan di era digital.

Perhatiannya terhadap dunia pendidikan tidak berhenti pada sekolah yang dipimpinnya saat ini.

Ia masih menyimpan mimpi besar untuk membangun taman baca bagi masyarakat serta meningkatkan jenjang pendidikan sekolahnya hingga tingkat Madrasah Aliyah. (*)

PENULIS : Nurwahida