PARAPUANG.com, MAKASSAR – Pembelajaran ekonomi tidak seharusnya berhenti pada teori di dalam buku.
Kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat justru dapat menjadi sumber belajar yang dekat dengan kehidupan siswa.
Gagasan tersebut menjadi fokus kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Makassar (UNM) melalui program Pembelajaran Ekonomi Berbasis Kearifan Lokal yang dilaksanakan pada Senin, 24 Agustus 2026 di SMA Hang Tuah Makassar.
Program ini dirancang untuk memperkuat kompetensi guru dalam menghadirkan pembelajaran ekonomi yang kontekstual, relevan, serta dekat dengan realitas sosial-ekonomi di lingkungan peserta didik.
SMA Hang Tuah Makassar dinilai memiliki potensi lingkungan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran, mulai dari aktivitas perdagangan, usaha mikro, kuliner rumah tangga, hingga praktik kewirausahaan masyarakat.
Ketua Tim PKM, Dr. Muhammad Ilyas Thamrin Tahir, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa esensi pembelajaran ekonomi berbasis kearifan lokal terletak pada kemampuan menghubungkan konsep ekonomi dengan realitas kehidupan masyarakat.
“Pembelajaran ekonomi tidak cukup hanya membuat siswa memahami konsep secara teoritis. Siswa perlu melihat bagaimana kegiatan ekonomi berlangsung di lingkungan mereka, memahami nilai yang terkandung di dalamnya, kemudian mampu menganalisisnya secara kritis,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan ini juga dapat membantu siswa mengenali potensi ekonomi di lingkungan sekitar sekaligus memahami nilai-nilai lokal seperti gotong royong, solidaritas sosial, kejujuran, kerja sama, serta etika dalam aktivitas ekonomi.
Pembelajaran diharapkan mampu membentuk pengalaman belajar yang lebih bermakna sekaligus menumbuhkan kesadaran terhadap potensi ekonomi daerah.
Model yang dikembangkan mengintegrasikan tiga komponen utama, yakni modul pembelajaran ekonomi berbasis kearifan lokal, media pembelajaran digital interaktif, serta Project Based Learning (PjBL).
Siswa diarahkan untuk mengidentifikasi potensi ekonomi lokal, mempelajarinya melalui bahan ajar dan media digital, mengerjakan proyek berbasis lingkungan sosial-ekonomi, kemudian melakukan refleksi serta evaluasi terhadap hasil pembelajaran.
Kepala SMA Hang Tuah Makassar, Nasrul, S.Pd., menyambut positif pelaksanaan program tersebut.
Ia menilai pendekatan pembelajaran yang mengangkat kondisi lingkungan sekitar dapat membantu guru maupun siswa melihat bahwa materi ekonomi memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari.

“Program ini memberikan perspektif baru bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan siswa. Lingkungan sekitar sekolah memiliki banyak potensi yang dapat dijadikan sumber belajar, sehingga siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga dapat melihat praktik ekonomi secara nyata,” katanya.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran.
Siswa juga diharapkan semakin mengenal potensi ekonomi lokal, memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya, serta tumbuh minat untuk mengembangkan kreativitas dan jiwa kewirausahaan.
Pelaksanaan PKM menggunakan pendekatan partisipatif dan kolaboratif. Kegiatan mencakup sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi pembelajaran, pendampingan, evaluasi, hingga penyusunan strategi keberlanjutan.
Guru didorong untuk menghasilkan perangkat pembelajaran kontekstual yang dapat digunakan kembali serta dikembangkan sesuai kebutuhan sekolah.
Program ini juga menargetkan peningkatan pemahaman guru terhadap strategi pembelajaran ekonomi berbasis kearifan lokal, tersedianya perangkat pembelajaran, keterlibatan siswa dalam mengidentifikasi praktik ekonomi lokal, serta lahirnya model pembelajaran yang dapat direplikasi.
Tim PKM UNM terdiri atas Dr. Muhammad Ilyas Thamrin Tahir, S.Pd., M.Pd., Dr. Ratnah S, S.Pd., M.Pd., Dr. Andi Caezar To Tadampali, S.E., M.M., Andi Sawe Ri Esso, S.E., M.Si., serta Muhammad Ansar Anto, S.Pd., M.Pd.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran ekonomi yang lebih kontekstual dan bermakna.
Kearifan lokal tidak hanya ditempatkan sebagai bagian dari budaya masyarakat, tetapi juga dapat menjadi sumber pengetahuan untuk memahami aktivitas ekonomi, membangun literasi ekonomi, serta menumbuhkan kesadaran kewirausahaan sejak di bangku sekolah.(*)
PENULIS : Alin Imani
