PARAPUANG.com – dr. Andi Nur Fadhilah Asra menjadi salah satu dokter estetik yang cukup dikenal di Kota Makassar.

Sosok perempuan yang akrab disapa dr. Dhila ini menarik perhatian karena mampu memadukan passion, keilmuan, dan misi edukasi kecantikan dalam perjalanan kariernya.

Di tengah menjamurnya klinik estetika, dr. Dhila hadir bukan sekadar sebagai ahli dan praktisi kecantikan.

Ia juga aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya perawatan kulit yang aman dan tepat melalui media sosial.

Baginya, kecantikan tidak hanya soal penampilan, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan kulit dan tanggung jawab medis.

Perjalanan menuju dunia estetika tidak dilalui secara instan, dr. Dhila membangun kompetensinya dari nol.

Ia menempuh pendidikan Profesi Dokter di Universitas Hasanuddin sejak 2008.

Meski tidak berasal dari keluarga dokter, dukungan orang tua menjadi salah satu faktor penting yang mendorongnya memilih dunia medis sebagai jalan hidup.

Keinginan menjadi dokter sebenarnya sudah tumbuh sejak kecil, tetapi ia sempat mempertimbangkan mengambil jurusan ekonomi sebelum akhirnya mantap memilih kedokteran.

Keputusan tersebut kemudian menjadi titik yang mengubah arah hidup dan perjalanan kariernya secara signifikan.

Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran, dr. Dhila melanjutkan menimba ilmu di lembaga estetika medis untuk memperdalam kompetensinya pada bidang kecantikan dan anti-aging.

Komitmennya dalam mengembangkan keilmuan juga ditunjukkan lewat keaktifannya mengikuti forum, seminar, dan pelatihan estetik, baik di dalam maupun luar negeri.

Baca Juga :  Andi Ina Kartika Sari Buka Turnamen Bupati Cup 2025, Mencari Bintang Sepak Bola Masa Depan Barru

Langkah tersebut dilakukan untuk terus memperbarui pengetahuan sekaligus memastikan setiap tindakan yang diberikan kepada pasien tetap aman dan sesuai standar medis.

Perempuan kelahiran Makassar, 4 Agustus 1990 itu, saat ini tengah menempuh pendidikan magister Ilmu Biomedik dengan konsentrasi Aging and Regenerative Medicine (Anti-Aging) di Universitas Hasanuddin.

Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmennya untuk terus memperdalam ilmu di bidang estetika dan anti-aging.

Di balik kesibukannya sebagai dokter, perempuan yang hobi belanja dan traveling itu mengaku menemukan passion yang kuat di dunia kecantikan.

Baginya, estetika bukan sekadar mengikuti tren, tetapi bidang yang benar-benar sesuai dengan minat dan tujuan profesionalnya.

“Dunia estetik memang menjadi passion saya, karena saya sangat senang dengan kecantikan. Selain itu, saya juga melihat bidang ini memiliki peluang profesional yang sangat besar,” ujarnya.

Perjalanan dr. Dhila di dunia estetika dimulai dari langkah sederhana dan skala kecil.

Pada 2022, ia membuka praktik mandiri di rumah sambil membangun kepercayaan pasien secara perlahan dari satu orang ke orang lainnya.

Pengalaman tersebut menjadi proses penting dalam perjalanan kariernya.

Seiring waktu, dedikasi dan konsistensinya di bidang estetika membawanya mendapat kesempatan bergabung dengan The Clinic Makassar, salah satu klinik kecantikan terbaik yang terus berkembang di Makassar.

Baca Juga :  Pertahankan Tradisi, Sherly Tjoanda Santap Cacing Laut, Berani Coba?

“Sempat buka klinik kecil di rumah, dan saat ini kerja di The Clinic Makassar,” katanya.

Meski begitu, perjalanan kariernya tidak lepas dari berbagai tantangan.

Persaingan klinik kecantikan yang semakin menjamur menjadi ujian tersendiri.

Kondisi tersebut menuntut dirinya untuk terus bekerja profesional demi mendapatkan kepercayaan masyarakat di tengah banyaknya pilihan layanan estetika.

Risiko medis dalam setiap tindakan estetik juga menjadi tanggung jawab besar yang harus dihadapi.

Menurut dr. Dhila, kesalahan kecil dalam prosedur kecantikan bisa berdampak fatal bagi pasien.

“Kesalahan kecil dapat berdampak fatal, sehingga saya terus meningkatkan kompetensi melalui pelatihan, diskusi dengan rekan sejawat, dan belajar secara berkelanjutan,” ucap dr. Dhila.

Komitmen tersebut juga diwujudkan lewat keaktifannya dalam organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perhimpunan Dokter Anti Penuaan, Wellness, Estetik, dan Regeneratif Indonesia (PERDAWERI) Sulsel.

Kedua organisasi itu berperan penting dalam menjaga standar etika, kompetensi, dan prosedur praktik estetika yang aman.

Tidak hanya fokus pada praktik medis, dr. Dhila juga membawa misi edukasi kepada masyarakat.

Ia ingin masyarakat lebih cerdas dalam memilih produk skincare serta memahami pentingnya perawatan kulit sejak dini.

Baca Juga :  Казино Вавада играйте и выигрывайте большие призы

Karena itu, ia aktif membagikan konten edukatif melalui media sosial, terutama terkait bahaya penggunaan produk skincare ilegal dan pentingnya memilih perawatan yang aman sesuai standar medis.

“Banyak pasien yang datang dengan kondisi kulit sudah rusak akibat penggunaan krim berbahaya, karena itu saya ingin membantu masyarakat lebih sadar akan pentingnya perawatan kulit menggunakan produk yang aman,” bebernya.

Fenomena tersebut menjadi dorongan bagi dr. Dhila untuk terus menyuarakan edukasi tentang skincare aman dan kesehatan kulit, khususnya kepada masyarakat di luar kota besar yang masih minim akses informasi.

Di balik kesibukannya sebagai dokter estetik, dr. Dhila memegang prinsip hidup sederhana namun kuat ‘Dokter yang hebat bukan yang tahu segalanya, tapi yang tidak pernah berhenti belajar’.

Ia percaya dunia medis, terutama estetika, terus berkembang sehingga setiap praktisi harus selalu memperbarui pengetahuan dan kemampuan.

Selain itu, dr. Dhila juga menekankan pentingnya kemandirian perempuan.

“Perempuan harus mampu berdiri di atas kaki sendiri dan terus berkembang tanpa bergantung pada orang lain,” pesannya.

Makna kecantikan yang ia pegang pun cukup mendalam.

Ia memandang wajah dan tubuh sebagai aset yang harus dijaga, bukan sekadar untuk penampilan, tetapi juga sebagai bentuk investasi kesehatan dan kepercayaan diri jangka panjang. (*)

PENULIS : Nurwahida